Sabtu, 16 Maret 2013

Bengkel dan Rutinitas


Hari ini hari sabtu. Memulai aktifitas yang sedikit longgar di akhir-akhir semester memang bikin stres. Tak ayal, banyak saraf-saraf yang aku rasakan semakin kendor dimakan oleh ruangan empat kali empat alias kos-ku sendiri.
Jadwal akhir pekan memang tidak padat-padat banget, melihat matahari yang semakin meninggi, aku paksa mengayuh sepeda motorku ke bengkel, ingin kuservis rencananya. Servis motor meupakan kegiatan rutin yang memang diharuskan, itu merupakan wujud perhatian dari pengguna kepada sang kuda besi agar ia selalu terawat dan tampil baik ketika dikendarai.
Pernah suatu ketika, temanku sudah tiga bulan tidak menyervis motornya, olinya habis karena tidak diganti, mesinnya-pun banyak yang rusak, dan akhirnya dibongkar dan diganti habis-habisan, dan itu memakan biaya yang tidak sedikit. Masalah mesin memang luar biasa beratnya, bukan hanya dari awal pembelian, tapi perawatan-nya  juga yang harus teratur.
Aku-pun pergi ke bengkel langganan. Jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kampus tempat aku duduk beberapa tahun ini. Sesampainya disana, cukup lengang, mungkin karena hari sabtu, hari yang tidak terlalu padat dan banyak orang tidak ingin kemana-mana pada hari ini.
Bengkel ini pada hari-hari biasa sangatlah ramai, maklum, karena lokasinya yang strategis, juga karena ongkosnya murah dan terjangkau bagi kalangan mahasiswa. Setalah memberhentikan motor, akupun beranjak ke bangku pojok, soalnya ketika aku tiba, para montir sudah memperbaiki beberapa motor pelanggan. Jadilah aku harus antri terlebih dahulu.
Antri merupakan kebiasaan baik, sangat baik untuk terapi kesabaran. Di Indonesia, budaya ini memang sudah seharusnya melekat pada setiap pribadi rakyatnya. Namun, aku-pun masih sering merasa, bahwa aku bukanlah sosok pengantri yang baik, itu keluhku, dan dari sini aku mencoba untuk bisa menjadi warga negara yang baik.
Obat yang baik untuk mengantri adalah bacaan, apapun itu, dari koran, majalah dan lain sebagainya. Oleh karean itu, sangatlah bijak jika suatu tempat yang berkaitan dengan pelayanan yang menyangkut masyarakat banyak, haruslah menyediakan bahan bacaan yang dapat membuat para pengguna layanan tidak jenuh dalam menunggu gilirannya tiba.
Salah satu efek positif dari hal tersebut adalah untuk membudayakan kegemaran membaca pada tiap orang, atau paling tidak dapat menambah pengetahuan tentang info-info atau isu-isu yang beredar pada saat ini, dan itu merupakan salah satu poin penting untuk memajukan masyarakat terhadap apa yang berkembang pada setiap kejadian atau peristiwa yang ada pada saat itu.
Beruntungnya aku, ketika itu telah tersedia sebuah koran yang tergeletak dan siap untuk dibaca, bagiku ini merupakan servis lebih dari bengkel terhadap pelanggannya. Ya, daripada mengotak-atik yang tidak perlu dan melihat-lihat dengan pandanag kosong, tentu akan lebih baik jika membaca menjadi sebuah prioritas.
Akhirnya setelah tiga puluh menit menunggu, giliranku tiba. Sang montir-pun menanyakan keperluanku:
“Mau diapain motornya mas?” tanyanya.
“Servis ringan sama ganti oli mas” jawabku.
“Olinya apa?”
“Olinya F...” aku menambahi.
“Ok” ia menyahut.
Mungkin Cuma itu kebutuhanku saat ini, dan itu harus dilakuakn rutin. Begitu pula dengan membaca, ya alangkah lebih baik lagi jika hal tersebut juga dilakukan secara rutin, tidak hanya ketika berada ditempat bengkel atau tempat lain yang sedang penuh dengan antrian “baru mebaca”.
Tak lama kemudian, motorku selesai diservis, dan transaksi bayar membayar merupakan suatu kewajiban atas jasa montir. Akhirnya, selamat bermalam minggu, dan kita sendirilah yang harus membuat hari-hari kita menjadi istimewa. Salam.

Bengkel Jogja, 16 Maret 2013.

Kamis, 14 Maret 2013

Rabu Malam di Angkringan



Malam ini, kulihat jam di Hp sudah menunjukkan pukul tujuh. “Sudah waktunya untuk makan malam”, aku berbicara pada diriku sendiri. Tapi sebelum itu, aku ada sedikit keperluan di toko buku, ingin melihat-lihat roman atau novel yang mungkin layak dibeli untuk bulan ini, karena sudah ku anggarkan sejak jauh-jauh hari.
Setelah beberapa saat, aku bersiap-siap berangkat. Toko-nya dekat, hanya beberapa ratus meter dari kosku, masuk kejalan besar, lurus dan toko tersebut akan terlihat di sisi selatan jalan. Cukup besar dan cukup luas.
Sesampainya disana, kucari-cari dibagian karya sastra maupun novel, tidak sulit untuk menemukan sesuatu yang menarik, banyak pilihan, dan akhirnya kuputuskan untuk terus mencari. Setelah tiga puluh menit lamanya, aku belum berminat untuk mengambil beberapa novel atau roman, sebagian kecil sudah kumiliki, sedikit.
Tak lama kemudian, alarm perutku rupanya sudah memanggil, “oh iya, aku lupa kalo aku juga ingin makan” batinku. Aku-pun beranjak dari rak-rak buku yang penuh di toko tersebut, keluar dan kudapati tempat makan sederhana, tepat didepan toko tersebut, “aaahh, angkringan” senyumku.
Beberapa saat, aku sudah mengambil nasi yang dibungkus dengan daun, orang-orang biasa menyebutnya dengan “nasi kucing”, entah mengapa mereka menyebutnya begitu, aku tak tahu sejarah asal-muasalnya.
Seperti kuceritakan diawal, nasinya terbungkus dalam daun pisang, rata-rata bentuknya kecil, “sekali makan mungkin taka akan kenyang”, itu yang kupikirkan. Menunya cukup sederhana, sambal ikan teri didalamnya, di angkringan tersebut-pun menyediakan minuman dan gorengan sebagai pelengkap lauk pauk.
Aah, sedapnya”
Tak terasa aku sudah mengambil bungkusan nasi yang kedua, dan kuambil pula tahu goreng untuk menambah nikmat makan malam ini. Ya, nikmat sekali.
Berada di warung kecil yang diangkut dengan gerobak, duduk berjejer diatas bangku dan dibawah temaram lampu yang membuat suasana semakin hangat, apalagi ditambah wedang jahe, hmmm, luar biasa.
Setelah beberapa suap dari bungkusan kedua, aku mendengar percakapan antara pembeli dan penjual dalam bahasa jawa kromo atau disebut juga dengan jawa halus. Kuterjemahkan begini, kurang lebih.
Berapa bu” ujar pembeli kepada sang penjual, yang kebetulan seorang wanita.
Apa aja pak?” ucapnya.
Nasi dua, es teh, sama gorengannya dua ”
O,, semuanya empat ribu limaratus pak”
Setelah itu, aku terperanjat, bukan karena murahnya, tapi karena pembelinya.
Ya, karena pembelinya adalah “mohon maaf” seorang tuna netra. Aku menyebut asma Allah dalam hati, luar biasa orang ini. Kulihat dia merogoh kantongnya, mencari-cari dan membayarnya.
Peristiwa itu terus kuperhatikan dan tak kulewatkan, “sungguh hebat orang ini” gumamku dalam hati.
Ia mampu melakukan apa yang dilakukan oleh orang normal, dan dia tidak meminta belas kasihan dari seorangpun dan semua ia lakukan sendiri. Aku termenung sejenak, melihat ia membayar dengan uang pas, dan berlalu dengan tongkatnya, sendirian dan berjalan kaki.
Pria tersebut merupakan potret malam, yang semakin jauh dia beranjak, semakin aku sadari, bahwa semua tidak mengahambatnya untuk berbuat apapun yang ia mau, semua ia lakukan meskipun pelan-pelan. Ia memiliki semangat yang kadang-kadang tak dimiliki manusia normal. Ia “menamparku” seketika, tamparan keras untuk bergerak dan bersemangat dalam hidup, tidak peduli apapun keadaanmu.
Karena, sudah banyak yang kulihat dan kurasakan sendiri terhadap apa yang dapat dilakukan oleh manusia normal kebanyakan, tapi tak pernah ada kemauan untuk itu. Sedangkan pria tersebut, sungguh mantap jalannya, memberikan gambaran bahwa ia juga bisa berbuat sesuatu tanpa harus melihat kekurangannya.
Dunia ini terkadang memang terbalik, sebagian orang yang dikarunia kelebihan, kadang tak tahu apa yang harus dilakukan dan hanya berdiam diri mengharapkan hujan uang turun dari langit, tak ada karya dan tak ada usaha.
Sebagian yang lain, yang justru terkadang terlihat hanya sebelah mata, mampu berbuat lebih yang tak bisa dilakukan kebanyakan orang. Fantastis.
Aah, pria itu telah berlalu, hilang dibawah lampu-lampu jalan yang terang, mungkin beranjak pulang, dan aku? masih termenung sejanak, berfikir tentang inspirasi hidup disaat yang tidak aku duga sebelumnya.
Terimaksih kuucapkan untukmu pak, juga untuk-Mu Tuhanku sang permberi kehidupan.
Akhirnya akupun melanjutkan untuk menghabiskan makanku yang tinggal separuh lagi, tak lama setelah membayar, aku beranjak pulang.

Angkringan Jogja, 13 Maret 2013







Rabu, 06 Maret 2013

FUNGSI BAHASA


A.    Pendahuluan
Awal-awal masa kuliah, terutama bidang linguistik yang saya ambil, saya disuguhkan dengan pertanyaan menarik tentang bahasa. Dalam kelas, para mahasiswa diberikan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang apa itu bahasa? Hakikatnya? Fungsinya? dan lain sebagainya sebagai pengantar.
Memang tidak aneh ketika banyak mahasiswa yang menjawab dan mendefinisikan bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi, titik. Mungkin pada awal-awal pembelajaran, hal itu masih dapat dimaklumi oleh para dosen, namun semakin menanjak semester saya, kami, mahasiswa dikritisi habis-habisan tentang hal yang sangat sederhan yaitu bahasa dan fungsi bahasa. Mengapa? Karena belum ada kemajuan berarti dalam fikiran mahasiswa tentang hal yang seharusnya telah mereka kembangkan lebih jauh lagi.
Kemudian saya mencoba untuk melihat-lihat ulang tentang hal tersebut, setelah membaca beberapa referensi, barulah saya pahami apa maksud dari dosen linguistik saya tersebut.
Pertama, saya akan menggambarkan tentang bahasa itu sendiri secara sederhana, karena pembahasannya akan ada dalam tulisan lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi, yang bersifat arbitrer, konvensional dan komunikatif.[i]
Kemudian, fokus utama dalam tulisan ini adalah tentang fungsi bahasa itu sendiri yang akan dijelaskan “mungkin secara sederhana pula” pada bagian selanjutnya.
B.     Fungsi Bahasa
Sebenarnya ada banyak pendapat linguis tentang fungsi bahasa dalam tradisi linguistik. Karena banyak arti dalam bahasa itu sendiri pada penggunaannya dalam manusia sehari-hari. Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep maupun perasaan.
Pada abad pertangahan (500-1500 M) studi bahasa kebanyakn dilakukan oleh para ahli logika ataupun ahli filsafat. Mereka menitik-beratkan penyelidikan bahasa-bahasa pada satuan-satuan kalimat yang dapat dianalisis sebagai alat untuk menyatakan preposisi benar atau salah.[ii]
Namun terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyakan kembali tentang pendekatan tersebut, apakah bentuk ekspresi, kesenangan, pertanyaan juga merupakan dikotomi salah benar?
Dalam logika, kalimat yang memiliki nilai benar atau salah hanyalah kalimat deklaratif saja, atau menggunakan bahasa hanya untuk membuat pernyataan salah atau benar saja sesuai dengan pikiran kita. Dalam berintraksi dan berkomunikasi, pikiran hanyalah satu bagian dari sekian banyak informasi yang akan disampaikan.[iii]
Berbicara lebih lanjut tentang fungsi bahasa, H. A. K. Halliday dalam bukunya Exploration Of The Function Of Language menyebutkan terdapat tujuh fungsi bahasa sebagai berikut:[iv]
1.      Bahasa memerankan fungsi instrumental, yang berarti bahwa bahasa itu merupakan penyebab terjadinya suatu  peristiwa. Fungsi ini dapat terlihat jelas pada pemakaian bahasa ketika seseorang memerintah, baik secara langsung maupun tidak.
2.      Bahasa memerankan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan berbagai peristiwa. Fungsi ini disebut dengan the regulatory function yang merupakan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan orang lain atau untuk menyetir orang lain. Bahasa hukum yang memuat pasal-pasal beserta kandungannya merupakan contoh fungsi bahasa yang berkaitan dengan the regulatory system.
3.      Bahasa juga berfungsi untuk membuat pernyataan, menyampaikan fakta-fakta, pengetahuan, menjelaskan atau menggambarkan realitas yang sebenarnya. Tugas ini disebut the representational function.
4.      Bahasa berfungsi sebagai the interactional function. Artinya, bahwa bahasa bermanfaat untuk melanggengkan komunikasi atau hubungan antar sesama. Agar komunikasi berjalan dengan lancar, maka diperlukan pengetahuan mengenai logat, bahasa, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.
5.      Bahasa melakukan fungsi the personal function. Artinya, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan dirinya, mengungkapkan sesuatu tentang dirinya dan sekaligus tentang hal lain. Juga dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan emosinya dan reaksi-reaksi lainnya.
6.      Bahasa merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Artinya bahwa bahasa memerankan fungsi the heuristic function. Fungsi ini sering terwujud dalam bentuk pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban seperti: mengapa, bagaimana, dimana dan lain-lain.
7.      Dan yang terakhir, bahasa berfungsi sebagai alat untuk berimajinasi yang juga disebut dengan the imaginative function. Artinya bahwa bahasa mampu menciptakan ide-ide yang non-faktawi seperti ketika mengisahkan cerita-cerita, karya sastra dan lain sebagainya.

Selain Halliday, terdapat pula linguis lain yang berpendapat tentang fungsi bahasa yaitu Jacobson (1960) yang merupakan pionir aliran linguistik praha. Menurutnya, terdapat enam fungsi bahasa yaitu: (1) fungsi eksresif atau emotif, (2) fungsi referensial, (3) fungsi estetik atau puistik, (4) fungsi fatik, (5) fungsi metalingual dan (6) fungsi direktif atau konatif. [v]
Kemudian searah dengan Jacobson, Karl Buhler menjelaskan pula beberapa fungsi bahasa menurut pendapatnya terbagi menjadi enam bagian sebagai berikut:[vi]
1.      Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berekspresi
Yaitu manusia dapat mengungkapkan dirinya lepas dari tujuannya. Fungsi ini dapat dilihat pada bahasa-bahasa yang dipakai pengarang dalam sastra, baik novel, cerpen, drama dan lain-lain.
Yang terpenting pada fungsi ini adalah ide dan gagasan dari pengarang atau penulis. Selain itu fungsi ekspresif bahasa dapat dilihat pada pernyataan otoritatif seperti pidato-pidato politik, dokumen-dokumen tokoh, karya ilmiah dan lain-lain.
2.      Bahasa berfungsi untuk memberikan informasi
Fungsi ini disebut juga dengan the informative function yang sering kita temukan dalam buku-buku pelajaran, surat kabar, majalah dan lain sebaginya. Fungsi ini bercirikan bahasa yang bersifat non-regional, non-idiolek, formal, teknis dan netral.  
3.      Bahasa menjalankan fungsi vokatif
Fungsi ini disebut juga dengan fungsi konatif, fungsi instrumental, fungsi operatif dan fungsi paragmatik. Fungsi vokatif dapat terlihat pada pengumuman-pengumuman, petunjuk, publiksi, propaganda, tulisan-tulisan persuasif dan lain sebagainya.
Yang terbersit dalam fungsi vokatif adalah bahasa merupakan hubungan antara penulis dan pembacanya  yang terwujud dalam hubungan gramatika yang telah ditentukan secara sosial ataupun personal. Adapun cirinya adalah bahasanya bersifat langsung dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca atau pendengarnya.
4.      Bahasa menjalankan fungsi estetika
Fungsi ini berkaitan erat dengan rasa keindahan “sense of beauty” yang mungkin terpancar lewat untaian bunyi pada puisi, lagu dan sebagainya. Fungsi ini terwujud, selain dari yang disebutkan sebelumnya, juga melalui ritme, keselarasan, kontras kalimat, klausa dan kata atau diksi.
Dalam hal bunyi, misalnya aliterasi, anomatope, asonansi, rima, intonasi dan tekanan nada, berperan sekali dalam melahirkan fungsi estetik.
5.      Bahasa memiliki fungsi fatik
Fungsi fatik lebih diarahkan untuk memelihara hubungan yang akrab dengan lawan bicara. Fungsi fatik biasanya hadir dalam frasa-frasa baku dalam bahasa lisan seperti: apa kabar, selamat pagi, selamat berjuang dan sebagainya. Adapun dalam bahasa tulis, sering kita temukan fungsi fatik dalam ungkapan seperti: sudah barang tentu, tidak diragukan lagi dan lain sebagainya.
6.      Bahasa menjalankan fungsi metalingual
Fungsi ini lebih mengacu pada kemampuan bahasa dalam menjelaskan atau menamakan dan juga mengomentari sifat-sifatnya sendiri. Dengan kata lain bahwa bahasa bebicara tentang dirinya sendiri. Fungsi ini sering diwakili dengan istilah gramatika seperti: menangis itu verba, kapur itu nomina, bagus itu adjektiva dan lain-lain. Selain itu terdapat ungkapan-ungkapan seperti: dalam pengertian luas, terkadang hal itu dinamakan, sejujurnya, secara literal dan sebagainya.

Demikianlah rincian sederhana tentang fungsi bahasa dari beberapa sumber dan referensi, semoga bermanfat dan hal tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. 


[i] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.
[ii] Abdul Chaer & Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Cet kedua. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 15.
[iii] Ibid. Hal. 15.
[iv] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.

[v] Ibid. Hal. 31.
[vi] Ibid. Hal. 33.

Senin, 04 Maret 2013

Apa Kabar?


“Apa kabar?”

Pagi ini entah berapa kali aku mengingat namamu, menunggu balasan pesan yang belum juga tiba. Entah tak tahu mengapa, mungkin aku merindu..

“Sehat?”
Tentu itu yang akan selau ku tanyakan pula, mendambakan kau selalu berteman dengan rutinitas yang menyenangkan, atau membosankan sekalipun, dengan keadaan yang tak akan mengganggumu..
“Sibuk apa sekarang?”
Selalu ingin memberi semangat, tak ingin aku melihat kau mati membusuk dalam kebosanan. Cukup banyak udara diluar kamar, dan mungkin udara itu yang kau cari,  aah.. bukan kau saja, aku dan kita semua-pun begitu.
Malam tadi mimpiku kosong, dibangunkan oleh kicau burung didepan rumahku sejak dini hari. Aku tak tahu apa yang ada didalam fikiran manusia, termasuk kau. Aku tak ingin selalu merusak suasana, tapi mungkin aku hanya ingin sedikit “membantu”.
Ya, ya, membantu melawan hari yang kadang kita rasa nakal dari biasanya, membantu fikiran yang kadang buntu membentur tembok yang sangat dekat dengan kepala kita, membantu hati yang kadang tak sealu bisa bercengkrama dengan dedaunan yang berada jauh disana. Ya, hanya membantu, tak lebih dan tak kurang.
Pagi ini dingin,  tak lama kemudian ada sedikit mendung dan gerimis.
Kau tahu, meskipun berbasah-basahan, aku akan tetap menemani, “gratis !!!” dan jangan ragukan itu.
Jogja, Maret 2013



Sabtu, 02 Maret 2013

Cuacaku


Apa kabar duniaku?  kembali aku menghirup udaramu dengan rasa yang sangat-sangat baru. Akhir-akhir ini cuacamu sangat tak menentu, menemani akhir pekan yang aku rasa semakin ambigu untuk dinimati.
Tapi tak apalah, mau gimana lagi, tak mungkin kusalahkan kau tentang buruk dan baiknya cuacamu, karena aku merasa yakin bahwa kau tak beraslah dan tak punya andil dalam perubahan itu.
Kau tahu kampungku? kampungku berada dipelosok daerah sana. Dulu, ketika aku masih berumur enam hingga sepuluhan tahun, banyak orang-orang tak mengenal kampungkuu, bahkan ada nada menghina tersirat dalam ucapan orang-orang itu. Namun aku masih bangga terhadap kampungku itu.
Tahu kau? Karena aku merasa kampungku memiliki segalanya, ya, alam yang melimpah, tetangga yang menebar senyum, ramah tamah dalam silaturahmi, masih banyak hutan yang dapat dilihat, dah juga kepelosokannya kukira. Kampungku serasa negeri yang luar biasa, memberikan ikan-ikan segar dari sungainya yang jernih, tempat para penduduk mandi serta mengais rezeki.
Aku masih ingat ketika bapakku mengajakku mencari ikan ditepi sungai dikampungku, men-jala ikan sambil belajar aku men-jala –namun masih saja tak bisa- dan luar biasa yang kami dapatkan, ikan-ikan sungai segar untuk kami makan dan masuk dalam tungku ibuku.
Alam dan sungai dikampungku merupakan sahabatku, berendam lama di sungai merupakan hobi kami saat anak-anak, tak jarang aku-pun demam tinggi dibuatnya karena tak dengar nasihat ibu dan nenek. Tapi, tetap saja aku membandel dan tetap terjun kesungai. Betapa nakalnya aku saat itu.
Tapi entah mengapa, aku merasa luar biasa bahagia. Aku pernah diajak buyutku berjalan kaki ke kebun yang letaknya jauh sekali dari rumah, digerogoti nyamuk, masuk jalanan berlumpur hingga kotor pakaianku.
Namun sejak aku lulus dari sekolah dasar, orang tuaku ingin aku maju. Mendambakan pendidikan yang baik sebagaimana diharapkan oleh orang-orang tuan lainnya. Berangkatlah aku, dan akhirnya dengan perjalanan dan perjuangan yang berat aku sampai disini, Jogja.
Kau tahu duniaku? sesekali aku pulang melihat kampungku, menjenguk orang tuaku, membebaskan rasa rindu yang luar biasa lama dipendam. Tapi bagaimanapun aku harus kuat, karena aku adalah seorang laki-laki. Laki-laki haruslah bersifat kesatria, yang tegar dan kuat serta bertanggung jawab. Begitu pepatah-pepatah yang aku dengar dari para guru.
Akhir-akhir ini aku mengerti mengapa banyak perubahan pada duniaku yang sering tak tentu ini, alam-mu yang dulu kulihat indah, lebat dan rupawan, kini tergantikan dengan degradasi besar-besaran. Hutanmu gundul rupanya, hanya menyisakan kantong-kantong uang bagi pembesar yang tak tahu aku dari mana datangnya.
Aku mersa terjarah dalam kampungku sendiri, awal-awalnya aku masih merasa bodoh melihat betapa tak sesuainya keseimbangan ini, tapi sejak berada ditempat yang jauh, sedikit-sedikit aku mengerti, betapa tak aman lagi alam kampungku saat ini.
Pernah aku diajak ayah berjalan ke arah hulu, melihat-lihat apa perkembangan akhir-akhir ini pada negeriku. Luar biasa, hutanmu sungguh tinggal sedikit lagi, rawa-rawa menyempit dan hampir tak menyisakan air. Yang aku rasakan sesudahnya adalah panas dan gersang dibawah terik yang luar biasa, serasa matahari mendekat diatas ubun-ubunku.
Sadarlah aku, keseimbanganmu talah goyah oleh generasi-generasi kami yang tidak berfikir ulang tentang bagaimana kontribusimu selama ini. Kau memberikan segalanya dari alam Tuhan ini “gratis” tak mengharap balasan, sedangkan generasi kami membabatnya dengan berbagai macam alasan.
Tahulah aku, sungaiku yang jernih dulu, kini airnya semakin memudar, beralih keruh. Tak terlihat lagi batu-batu kali tempat kami semasa anak-anak melempar-lemparkannya ke dasar sungai. Hanya tinggal tebing-tebing yang bisa melongsorkan tanahnya kapan saja ia mau, dan akhirnya aku pulang dan tak jadi berendam.
Oh, itulah rupanya curhatanmu “duniaku” selama ini dengan cuacamu, negeriku yang kaya ini menggerogoti dirinya dengan mambumi-hanguskan alamnya sendiri. Entah hingga kapan generasi kami akan duduk manis mendengarkan ucapanmu dan mengamini permintaanmu. Membelai kembali alammu dengan perilaku sahaja, besahabat sebagaimana nenek moyang kami jauh sebelumnya.
Hari ini, cuaca masih panas, dan aku sebisa mungkin memahami dan mendengar dengan baik pembicaraanmu pada alam ini. Apapun itu, aku masih tetap menikmati dan tersenyum terhadapmu. Salamku.

              Jogja, 2 Maret 2013.

Kamis, 11 Oktober 2012

Life isn't a movie


Memang benar yang dikatakan orang bijak, sesekali anda harus menyendiri untuk dapat berfikir lebih jernih dan berinstropeksi dalam kenyataan hidup anda.
Ketika menonton sebuah film, anda akan melihat berbagai macam cerita dan kenyataan yang kebanyakan sesuai dengan apa yang anda harapkan, yaitu happy ending. Mengapa? Karena memang itulah sebuah film, yaitu suatu kisah yang telah disetting sedemikian rupa yang menjadikan manusia melarutkan diri mereka dalam dunia imajinasi untuk waktu tertentu dan akhirnya, end (selesai).
Sesulit apapun peran yang dimainkan oleh tokoh utama, maka ia akan selalu mendapatkan bantuan dari hal-hal yang kadang tak dapat dicerna oleh fikiran kita yang akan menghasilkan alur cerita yang mungkin sedikit dapat anda tebak sendiri. Itulah yang terjadi dalam kebanyakan film yang sering kita tonton sehari-hari.
Akan tetapi, sering kali hal-hal yang terekam dari film-film yang telah kita lihat, menjadi mind set tersendiri bahkan menyatu dalam tubuh yang akan selalu kita ikuti dan kita yakini akan alurnya didalam dunia nyata, maka, tidak jarang pula memunculkan sifat “pasrah” tiada akhir yang menegasikan usaha atau kerja keras dalam hidup.
Life Isn’t a Movie, ketika anda mengharapkan sesuatu langsung terjadi secara tiba-tiba, maka itu adalah hal yang mustahil terjadi tanpa ada usaha dan kerja keras terlebih dahulu, ketika anda membutuhkan uang untuk membayar sesuatu, maka akan ada harta karun yang muncul didepan pintu rumah anda, ketika anda ingin lulus sekolah atau kuliah, maka nilai raport anda akan menjadi baik semuanya, lalu keluar ijazah yang bertuliskan LULUS atau tugas akhir anda akan langsung ada dan telah selesai dikerjakan, itupun sangat-sangat mustahil.
Ya, karena Life Isn’t a Movie, hidup ini bukanlah buaian atau cerita indah seperti yang terdapat di dalam film-film. Ini adalah dunia nyata dimana anda harus berbuat, bergerak dan melakukan sesuatu. Didalamnya terdapat proses-proses yang akhirnya akan membantu anda untuk menjalani hidup sesuai dengan “hidup seperti apa?” yang anda inginkan, dan tentunya, tidak semua perjalanan yang anda jalani akan berjalan sempurna dan sesuai rencana.
Meskipun demikian, anda akan belajar banyak hal dan akan melihat hasil yang telah diraih dan utamanya adalah proses untuk mencapai hal yang anda inginkan dan anda cita-citakan.
Anda tidak akan menjadi orang besar tanpa berproses, anda akan menjadi budak bagi diri anda sendiri ketika anda tidak berusaha dan berbuat sesuatu. So, inilah waktu yang tepat bagi anda untuk merenung sejenak, lalu bangkit dan langkahkan kaki anda dengan bangga.

Rabu, 08 Agustus 2012

Kata dan Klasifikasinya


A.    Pendahuluan
Sebagai alat komunikasi atau interaksi antar manusia, bahasa memiliki satuan-satuan yang digunakan untuk mengungkapkan, menyampaikan ataupun menuliskan sesuatu. Dalam bahasa, terdapat urutan dari satuan-satuan yang dimiliki bahasa, mulai darii yang terkecil hingga terbesar  yaitu: kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan wacana.[1]
Seperti yang telah kita lihat pada paparan diatas, bahwa "kata" merupakan bentuk terkecil dari satuan bahasa. meskipun bentuk terkecil, tapi ia adalah bentuk terdasar dalam landasan bahasa dan tentu saja dalam komunikasi dan interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
B.     Hakikat Kata
Istilah kata sering kita dengar dan kita gunakan. Maka barangkali kata “kata” ini hampir setiap hari dan setiap saat selalu kita gunakan dalam segala kesempatan dan segala keperluan.[2] Pendefinisian kata sebenarnya tidaklah semudah penggunaannya, Kamal Basyar dalam bukunya Daur al-Kalimah fi al-Lughah menyebutkan bahwa pendefinisian merupakan hal yang cukup sulit dan juga  "kata" itu tidak hanya memiliki satu term definisi yang tetap, akan tetapi terdiri dari berbagai macam definisi.
Keraf (2010) menyebutkan bahwa tidak ada suatu batasan tertentu mengenai “kata” yang sahih bagi semua bahasa di dunia. Dalam mendeskripsikan banyak bahasa di dunia, diperlakukan sebuah unit yang disebut dengan “kata”, namun bagi sebagian pengertian kata dibatasi secara fonologis, sedangkan bagi bahasa yang lain dibatasi secara morfologis.
Berikut beberapa definisi kata oleh para ahli:
1.      Tata bahasawan tradisional memberikan pengertian “kata” berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka “kata” adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.
2.      Kridalaksana (2008) mendefinisikan “kata” sebagai (1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas, (2) kata merupakan satuan bahasa yang berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (mis. batu , rumah, datang dan sebagainya) atau gabungan morfem (mis. pejuang, menngikuti, pancasila dan sebagainya), (3) satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem yang telah mengalami proses morfologis.
3.      Keraf (2010) menyebutkan bahwa “kata” merupakan suatu unit dalam bahasa yang memilki stabilitas intern dan mobilitas posisional, yang berarti ia memiliki komposisi tertentu (entah fonologis maupun morfologis) dan secara relatif memiliki distribusi yang bebas (contoh distribusi yang bebas dalam kalimat “saya memukul anjing itu; anjing itu kupukul; kupukul anjing itu”).
4.      Bloemfield (melalui Chaer:2007) menyebutkan bahwa “kata” adalah satuan bebas terkecil “a minimal free form”.
5.      Dalam situs Wikipedia Indonesia, “kata” dijelaskan sebagai suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa atau kalimat.
6.      Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa “kata” adalah (1) elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan ataudituliskan dan merupakan realisasi kesatuan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa, (2) konversasi atau bahasa, (3) morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas, (4) unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (mis. kata) atau beberapa morfem gabungan (mis. perkataan).
Demikianlah beberapa pendefinisian “kata” oleh para ahli yang mungkin masih banyak lagi definisi lainnya yang belum ditulis dalam tulisan ini. Namun, yang jelas, “kata” adalah satuan ujaran (bahasa) terkecil yang secara inhern memilki sebuah makna. [3]
C.    Kelas Kata
Kelas kata adalah golongan kata dalam satuan bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi dan makna dalam sistem gramatikal. Untuk menyusun kalimat yang baik dan benar yang berdasarkan pola-pola kalimat baku, penutur harus  mengenal jenis dan fungsi kelas kata.
C.1. Fungsi Kelas Kata
Adapun fungsi dari kelas kata adalah sebagai berikut:
1.      Melambangkan gagasan pikiran dari yang abstrak menjadi konkret.
2.      Membentuk macam struktur kalimat.
3.      Memperjelas makna gagasan kalimat.
4.      Membentuk satuan makna frase, klausa atau kalimat.
5.      Membentuk gaya pengungkapan  yang jelas sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
6.      Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi seperti: berita, perintah, penjelasan dan lain sebagainya
7.      Mengungkapkan berbagai sikap seperti: ajakan , penolakan dan sebagainya.

D.    Klasifikasi Kata
Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata atau penjenisan kata. Dalam peristilahan bahasa Inggris disebut juga dengan part of speech.[4]

D.1. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuk kata, pengklasifikasiannya terbagi menjadi empat bagian, yaitu (1) kata dasar, (2) kata turunan, (3) kata ulang dan (4) kata majemuk. Berikut penjelasannya:
1.      Kata Dasar
Kata dasa adalah kata asli yang belum diberi imbuhan atau yang belum diberikan awalan, akhiran, sisipan dan penggabungan awalan dan akhiran. Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan.
2.      Kata Turunan
Kata turunan adalah kata yang telah mengalami penambahan atau pengimbuhan. Penambahan atau pengimbuhan disebut juga dengan afiks yang  terdiri dari beberapa bentuk, yaitu:
a)      Imbuhan di awal kata (Prefiks atau awalan)
b)      Imbuhan di tengah kata (Infiks atau sisipan)
c)      Imbuhan di akhir kata (Sufiks atau akhiran)
3.      Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk, baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan memakai tanda penghubung (-). Contoh: lauk-pauk, anak-anak, gerak-gerik.

Kata ulang terdiri dari beberapa macam, yaitu:
a)      Ulangan seluruh kata dasar.
Contoh: anak-anak, buku-buku, ibu-ibu
b)      Ulangan kata dengan memberi imbuhan.
Contoh: berjalan-jalan, dibesar-besarkan, bermanja-manja
c)      Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang kedua.
Contoh: gerak-gerik, huru-hara, compang-camping
d)     Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal.
Contoh: kunang-kunang, mata-mata, anai-anai
4.      Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda yang membentuk suatu arti baru. Contoh: duta besar, rumah makan, rumah sakit.

D.2. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata (Jenis Kata)
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh bagian yaitu:
1.      Kata Benda (Nomina)
Kata benda adalah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek.
Suatu kata dapat dikategorikan dalam kelas kata nomina apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat dikikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh :
Sepeda            : sepeda yang bagus/sepeda yang sangat bagus.
Pemandangan  : pemandangan yang indah/ yang sangat indah.
Pemuda           : pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah.
b)      Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an. Contoh: Permainan, pertunjukan, kesehatan.
c)      Dapat diingkari dengan kata bukan. Contoh: Saya (bukan saya), roti (bukan roti), gubuk (bukan gubuk).
2.      Kata Kerja (Verba)
Kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata kerja biasanya berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat dikategorikan sebagai kelas kata kerja verba apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat diikuti oleh gabungan kata(frasa) dengan+kata sifat. Contoh:
Pergi    : pergi dengan gembira.
Tidur   : tidur dengan nyenyak.
Jalan    : jalan dengan santai.
b)      Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang dan telah. Contoh:
Akan mandi, sedang tidur, telah pergi dan sebagainya.
c)      Dapat diingkari dengan kata tidak. Contoh:
Tidak makan, tidak pergi dan sebagainya.
d)     Berawalan me- dan ber-. Contoh :
Melihat, melatih, bepikir, berusaha dan sebagainya.
3.      Kata sifat (Adjektiva)
Kata sifat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan sesuatu. Contoh: keadaan orang, binatang dan benda. Kata difat juga berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat dikategorikan sebagai kelas kata adjektiva apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata sekali. Contoh:
Indah   : sangat indah/indah sekali.
Baik     : sangat baik/baik sekali.
Tinggi  : sangat tinggi/tinggi sekali.
b)      Dapat diberi awalan se- dan ter-. Contoh:
Luas    : seluas/terluas.
Mudah : semudah/termudah.
Buruk  : seburuk/terburuk.
c)      Dapat diingkari dengan kata tidak. Contoh:
Murah  : tidak murah.
Sulit     : tidak sulit.
Pahit    : tidak pahit.
4.      Kata keterangan (Adverbia)
Kata keterangan adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia:
a)      Adverbia dasar bebas, contoh: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
b)      Adverbia turunan. Adverbia ini terbagi menjadi tiga bagian berikut:
I.       Adverbia reduplikasi, contoh: agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih, paling-paling.
II.    Adverbia gabungan, contoh: belum boleh, belum pernah atau tidak mungkin.
III. Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, contoh: terlampau, agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnhya.
5.      Kata ganti (Pronomina)
Kata ganti adalah kata yang digunakan untuk mengacu pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mangganti kata benda atau nomina. Adapun jenis-jenis kata ganti adalah sebagai berikut:
a)      Kata ganti orang. Terbagi menjadi tiga bagian, dapat berbentuk tunggal maupun jamak, yaitu:
I.       Kata ganti orang pertama: saya, aku, kami, kita.
II.    Kata ganti orang kedua: engkau, kamu, kalian.
III. Kata ganti orang ketiga: dia, beliau, mereka.
b)      Kata ganti pemilik       : -ku, mu, -nya.
c)      Kata ganti penunjuk    : ini, itu.
Contoh: Kami sangat berharap kepada kalian.
6.      Kata bilangan (Numeralia)
Kata bilangan adalah kata yang digunakan untuk menghitung banyaknya orang, binatang atau benda. Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapt peringkat pertama dikelasnya.
Bapak bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
7.      Kata tugas
Kata tugas adalah sejenis kategori kata dalam tatabahasa formal bahasa Indoneisa yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok yaitu: kata depan, kata sambung, kata sandang, kata seru dan partikel.
a)      Kata depan (Preposisi)
Kada depan adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat. Preposisi dapat berbentuk kata, contohnya kata di dan untuk, atau gabungan kata, cohtohnya bersama atau sampai dengan.
Preposisi terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:
I.       Preposisi yang menandai tempat                     : di, ke, dari.
II.    Preposisi yang menandai maksud dan tujuan : untuk, guna.
III. Preposisi yang menandai waktu              : hingga, hampir.
IV. Preposisi yang menandai sebab                       : demi, atas.
b)      Kata sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa; kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa dan seterusnya.
Kata sambung terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
I.       Konjungsi berkoordinasi: kata penghubung yang menghubungkan dua kata, klausa, frasa atau kalimat yang memiliki bentuk sintaksis yang sama atau sederajat. Contoh: dan, dengan, serta, atau dan lain-lain.
II.    Konjungsi subordinat: sebagai kata penghubung yang menghubungkan dua kata dan seterusnya yang tidak sederajat. Contoh: sebab, jika, bila dan lain-lain.
c)      Kata sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Contoh:
Sang guru              : sang bermakna tunggal.
Para pemimpin     : para bermakna jamak.
Si cantik                : si bermakna netral
d)     Kata seru (interjeksi)
Kata seru adalah kata yang mengungkapkan perasaan dan maksud seseorang, misalnya ah atau aduh,  atau melambangkan tiruan bunyi, seperti meong. Contoh lainnya adalah:
Ayo, jangan putus asa.
Wah, mahal sekali.
e)      Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai, mempertahankan atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi. Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah dan pernyataan (berita). Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek dan –pun.



Daftar Pustaka

Al-Khuli, Muhammad ‘Ali. 1982. A Dictionary of Theoritical Linguistics. Lebanon : Lebraire Du Liban.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
___________. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta.
Irman, Mochammad, dkk. 2008. Bahasa Indonesia 2. PDF. sJakarta: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS. Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/82746328/12/B-Klasi%EF%AC%81kasi-Kata-Berdasarkan-Bentuk-Kata. 08-08-2012. Pukul: 12.30. WIB.

Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa.  Cet. Keduapuluh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
http://www.anneahira.com/kata.htm. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.15. WIB.
http://bacpjj.unismuh.ac.id/new/?p=56. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.17. WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kata. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.00. WIB.


[1] Abdul Chaer, Ragam Bahasa Ilmiah. 2011. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 16.
[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 162.
[3] Abdul Chaer, Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 16.
[4] Abdul Chaer, Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.166.