Tampilkan postingan dengan label Bahasa/Lingustik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa/Lingustik. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Hakikat Bahasa


  1. Pendahuluan
Bahasa dapat mengacu kepada kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks. Kajian ilmiah terhadap bahasa dalam bahasa indra disebut dengan linguistik.
  1. Pengertian Bahasa
Secara etimologi, istilah bahasa berasal dari bahasa Latin lingua. Dalam bahasa Itali “bahasa” disebut linguaggio dan lingua, bahasa Perancis menyebut “bahasa” sebagai langage dan langue, dalam bahasa Spanyol “bahasa” disebut dengan lengua dan disebut dengan language dalam bahasa Inggris.
Penyebutan “bahasa” terdiri dari dua konsep utama dalam kajian lingustik yaitu penyebutan bahasa secara umum (bersifat koloquel) seperti langage (bahasa Prancis), linguaggio (bahasa Itali) dan juga penyebutan bahasa pada bahasa tertentu atau suatu sistem linguistik tertentu seperti langue (dalam bahasa Prancis), lingua (bahasa Itali) dan lengua (bahasa Spanyol). Akan tetapi, language dalam bahasa Inggris dapat digunakan untuk menamakan bahasa secara umum atau digunakan untuk menyebut satu bahasa tertentu, demikian halnya dengan istilah “bahasa” dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan pengertian terminologis dari bahasa itu sendiri telah banyak didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:
  1. Saphir (1921) dalam Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “a purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotion and desire by means of voluntarily produced symbol”. Saphir menyebutkan lima butir terpenting dalam definisi “bahasa” yaitu: manusiawi, dipelajari, memilki sistem, arbitrer dan bersimbol.
  2. Hall mengungkapkan bahwa bahasa merupakan suatu institusi dalam pengertian alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar umat manusia.
  3. Wardhough menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambangbunyi yang arbitrer yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.
  4. Hasan Lubis (1988) menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang-lambang yang arbitrer yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk menyampaikan fikiran dan perasaannya dengan bunyi-bunyi.
  5. Kridalaksana (2008) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipergunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
  6. Caroll (1959) beranggapan bahwa bahasa adalah sebuah sistem berstruktur mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia.i
  7. Bloch dan Trager (1942) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.ii
  1. Hakikat Bahasa
Pakar linguistik telah merumuskan banyak hal tentang hakikat bahasa. rumusan-rumusan tersebut jika dibutirkan akan menghasilkan sejumlah ciri atau sifat yang merupakan hakikat bahasa. Sifat-sifat tersebut pula yang telah didefinisikan oleh pakar-pakar linguistik diatas dalam menemukan pelbagai sifat-sifat bahasa.
Sifat-sifat tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Chaer (2007) antara lain: (1) Bahasa adalah sebuah sistem, (2) Bahasa itu berwujud lambang, (3) Bahasa itu berupa bunyi, (4) Bahasa itu bersifat arbitrer, (5) Bahasa itu bermakna, (6) Bahasa itu bersifat konvensional, (7) Bahasa itu bersifat unik, (8) Bahasa itu bervariasi, (9) Bahasa itu bersifat produktif, (10) Bahasa itu bervariasi, (11) Bahasa itu bersifat dinamis, (12) Bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, (13) Bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Begitu pula yang dipaparkan oleh Chaeda Alwasilah (1993) yang secara sederhana lagi menyebutkan hakikat bahasa itu antara lain: (1) Bahasa itu sistematik, (2) Bahasa itu manasuka “arbitrer”, (3) Bahasa itu ucapan/vokal, (4) Bahasa itu simbol atau lambang, (5) Bahasa itu mengacu pada dirinya sendiri, (6) Bahasa itu manusiawi dan (7) Bahasa itu komunikasi. Kemudian masih banyak lagi paparan-paparan linguis tentang hakikat bahasa yang tentu tidak dapat disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.
Dari beberapa keterangan yang diambil dari berbagai sumber, maka penulis akan menjelaskan tentang hakikat bahasa tersebut secara sederhana dan hal-hal yang akan dijelaskan kemudian merupakan beberapa dari poin inti dari hakikat bahasa. Berikut paparan dari sifat-sifat tersebut secara rinci:
  1. Bahasa Sebagai Sistem
Sistem sangat identik dengan pengertian cara atau aturan. Sistem juga berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya yang berhubungan secara fungsional.
Begitupun dengan bahasa, sebagai sebuah sistem, bahasa memiliki komponen-komponen dan aturan-aturan. Dalam pengertian ini, bahasa memiliki dua aspek penting yaitu unsur-unsur dan hubungan-hubungan yang dirajut oleh unsur-unsur tersebut. Satuan-satuan bahasa tersebut selalu terkait satu dengan yang lain sehingga membentuk kepaduan yang erat dan saling mendukung.iii
Pyles dan algeo (1993) menyebutkan bahwa terdapat dua tingkatan dalam sistem bahasa yang mereka sebut sebagai duality of patterning yang jika diterjemahkan menjadi kaidah ganda sistem bahasa. Kedua tingkatan ini mencakup komponen makna dan bentuk. Komponen bentuk yang berupa bunyi dipelajari oleh cabang linguistik yaitu fonetik atau fonologi sedangkan komponen makna ditelaah oleh semantik dan tata bahasa.iv
Lebih jauh, Chaer (2007) menjelaskan, sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola dan tidak tersusun secara acak atau secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sitem atau sistem bawaan. Dapat disebutkan sistem bawaan tersebut antara lain: subsistem fonologi, morfologi, sintaksis dan subsistem semantik.v
Dalam linguistik, terutama subsistem fonologi, morfologi dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak dibawah subsistem yang lain, lalu subsistem yang lain tersebut terletak pula dibawah subsistem lainnya. Selanjutnya, ketiga subsistem tersebut- pun terkait dengan subsistem semantik.vi
Dengan kata lain, bahasa sebagai sistem merupakan kerjasama antara subsistem yang lain dengan subsistem lainnya yang terjalin dan membentuk bahasa.
  1. Bahasa Sebagai Lambang
Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol yang diartikan dengan pengertian yang sama. Lebih rinci, Chaedar Alwasilah (1993) menjelaskan bahwa lambang atau simbol mengacu pada suatu obyek dan hubungan antara simbol dan obyek itu bersifat manasuka. Lambang dapat dibuat dari bahasa apa saja, ia bisa terbuat hari suatu benda seperti piramid yang melambangkan keagungan, atau dari kain seperti warna putih atau hitam atau juga dalam bentuk ujaran.
Lambang dengan segala seluk beluknya dikaji dalam kegiatan ilmiah dalam satu bidang kajian yang disebut dengan ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang terdapat didalam kehidupan manusia termasuk bahasa.vii
Dalam kehidupannya, manusia selalu menggunakan lambang. Oleh karena itu, Earns Cassirer menyatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol (animal symbolicum).viii Hampir tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari lambang, termasuk alat komunikasi verbal yang disebut dengan bahasa.ix
Jika ide atau konsep keadilan sosial dilambangkan dengan gambar padi dan kapas, maka wujud bahasa dilambangkan dalam bentuk bunyi yang berupa satuan-satuan bahasa seperti kata atau gabungan kata. Mengapa kata disebut sebagai lambang dalam satuan bahasa? sekali lagi, karena lambang bersifat manasuka, yaitu tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dan dengan yang dilambangkannya.
  1. Bahasa Itu Berupa Bunyi
Bahasa adalah bunyi, maka sepenuhnya dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Yaitu, sistem bahasa itu adalah berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi.x
Kemudian, yang perlu dipertegas disini adalah tentang bunyi itu sendiri menurut pandangan bahasa, apakah itu bunyi seperti yang dikenal secara umum? Apakah semua bunyi disebut bahasa? dan lain sebagainya. Bunyi yang dimaksud dalam bahasa disebut juga denga “speech sound” adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan didalam fonemik sebagai “fonem” yang keduanya dibahas dalam bidang lingusitik.
  1. Bahasa Itu Bersifat Arbitrer
Arbitrary berarti selected at random and without reason, dipilih secara acak dan tanpa alasan. Ringkasnya, manasuka atau seenaknya, asal bunyi, tidak ada hubungan logis antara kata-kata sebagi simbol atau lambang dengan yang dilambangkannya.xi Atau, dengan bahasa lain, Chaer (2007) menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Contoh pengertian arbitrer tersebut dapat kita lihat sehari-hari dalam kehidupan kita, hal tersebut terbukti antra rangkaian bunyi-bunyi dengan makna yang dikandungnya. Mengapa bahan bakar sepeda motor disebut dengan bensin tidak kecap, binatang tertentu di Indonesia disebut kuda, di Inggris horse, di Arab faras dan akan terus berbeda diwilayah-wilayah lain tentang penyebutannya.
Itulah yang disebut dengan arbitrer atau manasuka yang tidak akan bisa ditemukan alsan penyebutannya yang berbeda-beda dikarenakan sifat ke-arbitreran-nya. Andaikata bahasa itu tidak arbitrer, sudah barang tentu dapat kita pastikan bahwa sebutan untuk kuda hanya akan ada satu kata dalam bahasa manusia, tidak ada lagi penyebutan kuda, horse, faras dan lain sebagainya, hanya akan ada satu penyebutan.
  1. Bahasa Itu Bermakna
Bahasa, sebagai sistem lambang yang berwujud bunyi sudah pasti melambangkan suatu pengertian tertentu. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi tersebut. Karena lambang –lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu memiliki makna.xii
Contohnya adalah lambang bahasa yang berwujud bunyi “kuda”; lambang ini mengacu pada konsep “sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai”, kemudian konsep tersebut dihubungkan dengan benda yang ada didalam dunia nyata. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa “kuda” merupakan lambang bunyi, “sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai” merupakan konsep dan “kuda” yang ada didalam dunia nyata merupakan wujud dari lambang bunyi tersebut.
  1. Bahasa Itu Konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa harus mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.xiii
Contohnya adalah, adanya kesepakatan dalam masyarakat bahasa Indonesia untuk menyebut suatu benda beroda dua yang dapat dikendarai dengan dikayuh, yang secara arbitrer dilambangkan dengan bunyi “sepeda”, maka anggota masyarakat bahasa Indonesia “seluruhnya” harus mematuhinya. Jika tidak diapatuhi dan kemudian diganti dengan dengan lambang lain, maka komunikasi antar masyarakat akan terhambat.
Oleh karena itu, jika ke-arbitreran bahasa terletak pada antara lambang-lambang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka ke-konvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang-lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkan.xiv
  1. Bahasa Itu Dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia, sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat.xv
Karena keterkaitan dan keterikatan manusia dengan bahasa, dan kehidupan manusiapun akan terus berubah dan tidak tetap, maka bahasa-pun menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.xvi
Perubahan bahasa dapat terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik maupun leksikon. Namun perubahan yang paling terlihat dan paling sering terjadi adalah pada tataran leksikon dan semantik. Hampir setiap saat terdapat kata-kata baru muncul sebagai akibat dari perubahan budaya dan ilmu, atau terdapat kata-kata lama muncul dengan makna baru.
Dengan terjadinya perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu secara otomatis akan bermunculan konsep-konsep baru yang tentunya disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru. Kalau-pun kelahiran konsep tersebut belum disertai dengan wadahnya, maka manusia sendiri yang akan meciptakan istilahnya.xvii
  1. Bahasa itu bervariasi
Setiap bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa, dan adapun yang masuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, jika disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia. Yang termasuk anggota masyarakat sunda adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa sunda dan seterusnya. Jadi, dapat ditarik sedikit konklusi bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi lebih dari satu anggota masyarakat bahasa, karena disamping dia sebagai orang Indonesia, dia juga menjadi pemilik dan pengguna bahasa daerahnya.xviii
Anggota mayarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama, baik dari segi pendidikan, profesi, usia dan lain-lain. Oleh karena latar belakang dan lingkungan yang tidak sama, maka bahasa yang digunakan beragam atau bervariasi, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain seringkali memiliki perbedaan yang besar.
Mengenai variasi bahasa, terdapat tiga istilah yang dipandang perlu untuk diketahui, yaitu idiolek, dialek dan ragam.xix Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Artinya setiap orang memiliki ciri khas bahasa masing-masing, contohnya adalah bahasa-bahasa penulis seperti Hamka, Andrea Hirata dan lain-lain yang tentu berbeda satu sama lain.
Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Contohnya adalah dialek Banyumas, dialek Surabaya, bahasa Indonesia zaman Balai Pustaka dan sebagainya.
Adapun ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal, digunakan ragam bahasa yang disebu dengan ragam baku, untuk situasi yang tidak formal, digunakan ragam yang tidak baku. Begitu pula dapat dilihat dari sisi sarana, terdapat ragam tulisan dan lisan dan masih banyak lagi ragam-ragam lainnya.
  1. Bahasa Itu Manusiawi
Bahasa itu manusiawi dalam pengertian bahwa apa-apa yang sudah dipaparkan sebelumnya adalah suatu kekayaan yang hanya dimiliki umat manusia. Ringkasnya bahwa manusia-lah yang berbahasa sedangkan hewan-hewan lain tidak berbahasa.xx
Keistimewaan bahasa menusia akan semakin terasa jika dibandingkan dengan komunikasi binatang misalnya. Hal ini dapat ditelusuri dari sejarah evolusi manusia dan evolusi bahasanya, ahli-ahli biologi-pun membuktikan bahwa sistem komunikasi binatang itu sama sekali tidak mengenal ciri ganda bahasa manusia yaitu sistem bunyi dan makna (duality feature).xxi
Sering didengar dalam literatur-literatur yang mengatakan bahwa manusia itu homo loquens (the speaking animal), hewan yang memiliki kemampuan berbahasa. Jika manusia itu hewan yang berbahasa sedangkan bahasa adalah seperangkat kalimat-kalimat yang lazim, sedangkan kalimat lazim dibedakan dari yang tidak lazim dari tata bahasa, maka kesimpulan tentang manusia itu adalah homo grammaticus, yakni hewan yang bertata bahasa.xxii

Demikianlah paparan sederhana tentang “hakikat bahasa dari beberapa sumber dan referensi, semoga bermanfat. Salam.

Refensi
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta.
__________, Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Machayal, Rohali. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.
Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Poda.



i Rochayah Machali.2000. Pedoman Bagi Penerjemah . Jakarta: Grasindo. Hal. 18.


ii Ibid. Hal. 18.

iii Muhammad, 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 15.


iv Ibid. Hal. 15.

v Chaer.2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta. Hal. 35.

vi Ibid. Hal. 35.

vii Ibid. Hal. 37.

viii Ibid. Hal. 39.

ix Ibid. Hal. 39.

x Ibid. Hal. 42.

xi Chaedar Alwasilah.1993. Linguistik; Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa Hal. 85.

xii Chaer. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta. Hal. 44.

xiii Ibid. Hal. 47.

xiv Ibid. Hal. 48.

xv Ibid. Hal. 53.

xvi Ibid. Hal. 53.

xvii Ibid. Hal. 54.

xviii Ibid. Hal. 55.

xix Ibid. Hal. 55.

xx Chaedar Alwasilah. 1993. Linguistik; Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa. Hal. 88.

xxi Ibid. Hal. 88.

xxii Ibid. Hal. 89.


Rabu, 06 Maret 2013

FUNGSI BAHASA


A.    Pendahuluan
Awal-awal masa kuliah, terutama bidang linguistik yang saya ambil, saya disuguhkan dengan pertanyaan menarik tentang bahasa. Dalam kelas, para mahasiswa diberikan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang apa itu bahasa? Hakikatnya? Fungsinya? dan lain sebagainya sebagai pengantar.
Memang tidak aneh ketika banyak mahasiswa yang menjawab dan mendefinisikan bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi, titik. Mungkin pada awal-awal pembelajaran, hal itu masih dapat dimaklumi oleh para dosen, namun semakin menanjak semester saya, kami, mahasiswa dikritisi habis-habisan tentang hal yang sangat sederhan yaitu bahasa dan fungsi bahasa. Mengapa? Karena belum ada kemajuan berarti dalam fikiran mahasiswa tentang hal yang seharusnya telah mereka kembangkan lebih jauh lagi.
Kemudian saya mencoba untuk melihat-lihat ulang tentang hal tersebut, setelah membaca beberapa referensi, barulah saya pahami apa maksud dari dosen linguistik saya tersebut.
Pertama, saya akan menggambarkan tentang bahasa itu sendiri secara sederhana, karena pembahasannya akan ada dalam tulisan lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi, yang bersifat arbitrer, konvensional dan komunikatif.[i]
Kemudian, fokus utama dalam tulisan ini adalah tentang fungsi bahasa itu sendiri yang akan dijelaskan “mungkin secara sederhana pula” pada bagian selanjutnya.
B.     Fungsi Bahasa
Sebenarnya ada banyak pendapat linguis tentang fungsi bahasa dalam tradisi linguistik. Karena banyak arti dalam bahasa itu sendiri pada penggunaannya dalam manusia sehari-hari. Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep maupun perasaan.
Pada abad pertangahan (500-1500 M) studi bahasa kebanyakn dilakukan oleh para ahli logika ataupun ahli filsafat. Mereka menitik-beratkan penyelidikan bahasa-bahasa pada satuan-satuan kalimat yang dapat dianalisis sebagai alat untuk menyatakan preposisi benar atau salah.[ii]
Namun terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyakan kembali tentang pendekatan tersebut, apakah bentuk ekspresi, kesenangan, pertanyaan juga merupakan dikotomi salah benar?
Dalam logika, kalimat yang memiliki nilai benar atau salah hanyalah kalimat deklaratif saja, atau menggunakan bahasa hanya untuk membuat pernyataan salah atau benar saja sesuai dengan pikiran kita. Dalam berintraksi dan berkomunikasi, pikiran hanyalah satu bagian dari sekian banyak informasi yang akan disampaikan.[iii]
Berbicara lebih lanjut tentang fungsi bahasa, H. A. K. Halliday dalam bukunya Exploration Of The Function Of Language menyebutkan terdapat tujuh fungsi bahasa sebagai berikut:[iv]
1.      Bahasa memerankan fungsi instrumental, yang berarti bahwa bahasa itu merupakan penyebab terjadinya suatu  peristiwa. Fungsi ini dapat terlihat jelas pada pemakaian bahasa ketika seseorang memerintah, baik secara langsung maupun tidak.
2.      Bahasa memerankan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan berbagai peristiwa. Fungsi ini disebut dengan the regulatory function yang merupakan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan orang lain atau untuk menyetir orang lain. Bahasa hukum yang memuat pasal-pasal beserta kandungannya merupakan contoh fungsi bahasa yang berkaitan dengan the regulatory system.
3.      Bahasa juga berfungsi untuk membuat pernyataan, menyampaikan fakta-fakta, pengetahuan, menjelaskan atau menggambarkan realitas yang sebenarnya. Tugas ini disebut the representational function.
4.      Bahasa berfungsi sebagai the interactional function. Artinya, bahwa bahasa bermanfaat untuk melanggengkan komunikasi atau hubungan antar sesama. Agar komunikasi berjalan dengan lancar, maka diperlukan pengetahuan mengenai logat, bahasa, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.
5.      Bahasa melakukan fungsi the personal function. Artinya, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan dirinya, mengungkapkan sesuatu tentang dirinya dan sekaligus tentang hal lain. Juga dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan emosinya dan reaksi-reaksi lainnya.
6.      Bahasa merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Artinya bahwa bahasa memerankan fungsi the heuristic function. Fungsi ini sering terwujud dalam bentuk pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban seperti: mengapa, bagaimana, dimana dan lain-lain.
7.      Dan yang terakhir, bahasa berfungsi sebagai alat untuk berimajinasi yang juga disebut dengan the imaginative function. Artinya bahwa bahasa mampu menciptakan ide-ide yang non-faktawi seperti ketika mengisahkan cerita-cerita, karya sastra dan lain sebagainya.

Selain Halliday, terdapat pula linguis lain yang berpendapat tentang fungsi bahasa yaitu Jacobson (1960) yang merupakan pionir aliran linguistik praha. Menurutnya, terdapat enam fungsi bahasa yaitu: (1) fungsi eksresif atau emotif, (2) fungsi referensial, (3) fungsi estetik atau puistik, (4) fungsi fatik, (5) fungsi metalingual dan (6) fungsi direktif atau konatif. [v]
Kemudian searah dengan Jacobson, Karl Buhler menjelaskan pula beberapa fungsi bahasa menurut pendapatnya terbagi menjadi enam bagian sebagai berikut:[vi]
1.      Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berekspresi
Yaitu manusia dapat mengungkapkan dirinya lepas dari tujuannya. Fungsi ini dapat dilihat pada bahasa-bahasa yang dipakai pengarang dalam sastra, baik novel, cerpen, drama dan lain-lain.
Yang terpenting pada fungsi ini adalah ide dan gagasan dari pengarang atau penulis. Selain itu fungsi ekspresif bahasa dapat dilihat pada pernyataan otoritatif seperti pidato-pidato politik, dokumen-dokumen tokoh, karya ilmiah dan lain-lain.
2.      Bahasa berfungsi untuk memberikan informasi
Fungsi ini disebut juga dengan the informative function yang sering kita temukan dalam buku-buku pelajaran, surat kabar, majalah dan lain sebaginya. Fungsi ini bercirikan bahasa yang bersifat non-regional, non-idiolek, formal, teknis dan netral.  
3.      Bahasa menjalankan fungsi vokatif
Fungsi ini disebut juga dengan fungsi konatif, fungsi instrumental, fungsi operatif dan fungsi paragmatik. Fungsi vokatif dapat terlihat pada pengumuman-pengumuman, petunjuk, publiksi, propaganda, tulisan-tulisan persuasif dan lain sebagainya.
Yang terbersit dalam fungsi vokatif adalah bahasa merupakan hubungan antara penulis dan pembacanya  yang terwujud dalam hubungan gramatika yang telah ditentukan secara sosial ataupun personal. Adapun cirinya adalah bahasanya bersifat langsung dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca atau pendengarnya.
4.      Bahasa menjalankan fungsi estetika
Fungsi ini berkaitan erat dengan rasa keindahan “sense of beauty” yang mungkin terpancar lewat untaian bunyi pada puisi, lagu dan sebagainya. Fungsi ini terwujud, selain dari yang disebutkan sebelumnya, juga melalui ritme, keselarasan, kontras kalimat, klausa dan kata atau diksi.
Dalam hal bunyi, misalnya aliterasi, anomatope, asonansi, rima, intonasi dan tekanan nada, berperan sekali dalam melahirkan fungsi estetik.
5.      Bahasa memiliki fungsi fatik
Fungsi fatik lebih diarahkan untuk memelihara hubungan yang akrab dengan lawan bicara. Fungsi fatik biasanya hadir dalam frasa-frasa baku dalam bahasa lisan seperti: apa kabar, selamat pagi, selamat berjuang dan sebagainya. Adapun dalam bahasa tulis, sering kita temukan fungsi fatik dalam ungkapan seperti: sudah barang tentu, tidak diragukan lagi dan lain sebagainya.
6.      Bahasa menjalankan fungsi metalingual
Fungsi ini lebih mengacu pada kemampuan bahasa dalam menjelaskan atau menamakan dan juga mengomentari sifat-sifatnya sendiri. Dengan kata lain bahwa bahasa bebicara tentang dirinya sendiri. Fungsi ini sering diwakili dengan istilah gramatika seperti: menangis itu verba, kapur itu nomina, bagus itu adjektiva dan lain-lain. Selain itu terdapat ungkapan-ungkapan seperti: dalam pengertian luas, terkadang hal itu dinamakan, sejujurnya, secara literal dan sebagainya.

Demikianlah rincian sederhana tentang fungsi bahasa dari beberapa sumber dan referensi, semoga bermanfat dan hal tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. 


[i] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.
[ii] Abdul Chaer & Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Cet kedua. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 15.
[iii] Ibid. Hal. 15.
[iv] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.

[v] Ibid. Hal. 31.
[vi] Ibid. Hal. 33.

Rabu, 08 Agustus 2012

Kata dan Klasifikasinya


A.    Pendahuluan
Sebagai alat komunikasi atau interaksi antar manusia, bahasa memiliki satuan-satuan yang digunakan untuk mengungkapkan, menyampaikan ataupun menuliskan sesuatu. Dalam bahasa, terdapat urutan dari satuan-satuan yang dimiliki bahasa, mulai darii yang terkecil hingga terbesar  yaitu: kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan wacana.[1]
Seperti yang telah kita lihat pada paparan diatas, bahwa "kata" merupakan bentuk terkecil dari satuan bahasa. meskipun bentuk terkecil, tapi ia adalah bentuk terdasar dalam landasan bahasa dan tentu saja dalam komunikasi dan interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
B.     Hakikat Kata
Istilah kata sering kita dengar dan kita gunakan. Maka barangkali kata “kata” ini hampir setiap hari dan setiap saat selalu kita gunakan dalam segala kesempatan dan segala keperluan.[2] Pendefinisian kata sebenarnya tidaklah semudah penggunaannya, Kamal Basyar dalam bukunya Daur al-Kalimah fi al-Lughah menyebutkan bahwa pendefinisian merupakan hal yang cukup sulit dan juga  "kata" itu tidak hanya memiliki satu term definisi yang tetap, akan tetapi terdiri dari berbagai macam definisi.
Keraf (2010) menyebutkan bahwa tidak ada suatu batasan tertentu mengenai “kata” yang sahih bagi semua bahasa di dunia. Dalam mendeskripsikan banyak bahasa di dunia, diperlakukan sebuah unit yang disebut dengan “kata”, namun bagi sebagian pengertian kata dibatasi secara fonologis, sedangkan bagi bahasa yang lain dibatasi secara morfologis.
Berikut beberapa definisi kata oleh para ahli:
1.      Tata bahasawan tradisional memberikan pengertian “kata” berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka “kata” adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.
2.      Kridalaksana (2008) mendefinisikan “kata” sebagai (1) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas, (2) kata merupakan satuan bahasa yang berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (mis. batu , rumah, datang dan sebagainya) atau gabungan morfem (mis. pejuang, menngikuti, pancasila dan sebagainya), (3) satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem yang telah mengalami proses morfologis.
3.      Keraf (2010) menyebutkan bahwa “kata” merupakan suatu unit dalam bahasa yang memilki stabilitas intern dan mobilitas posisional, yang berarti ia memiliki komposisi tertentu (entah fonologis maupun morfologis) dan secara relatif memiliki distribusi yang bebas (contoh distribusi yang bebas dalam kalimat “saya memukul anjing itu; anjing itu kupukul; kupukul anjing itu”).
4.      Bloemfield (melalui Chaer:2007) menyebutkan bahwa “kata” adalah satuan bebas terkecil “a minimal free form”.
5.      Dalam situs Wikipedia Indonesia, “kata” dijelaskan sebagai suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Umumnya kata terdiri dari satu akar kata tanpa atau dengan beberapa afiks. Gabungan kata-kata dapat membentuk frasa, klausa atau kalimat.
6.      Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa “kata” adalah (1) elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan ataudituliskan dan merupakan realisasi kesatuan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa, (2) konversasi atau bahasa, (3) morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas, (4) unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (mis. kata) atau beberapa morfem gabungan (mis. perkataan).
Demikianlah beberapa pendefinisian “kata” oleh para ahli yang mungkin masih banyak lagi definisi lainnya yang belum ditulis dalam tulisan ini. Namun, yang jelas, “kata” adalah satuan ujaran (bahasa) terkecil yang secara inhern memilki sebuah makna. [3]
C.    Kelas Kata
Kelas kata adalah golongan kata dalam satuan bahasa berdasarkan kategori bentuk, fungsi dan makna dalam sistem gramatikal. Untuk menyusun kalimat yang baik dan benar yang berdasarkan pola-pola kalimat baku, penutur harus  mengenal jenis dan fungsi kelas kata.
C.1. Fungsi Kelas Kata
Adapun fungsi dari kelas kata adalah sebagai berikut:
1.      Melambangkan gagasan pikiran dari yang abstrak menjadi konkret.
2.      Membentuk macam struktur kalimat.
3.      Memperjelas makna gagasan kalimat.
4.      Membentuk satuan makna frase, klausa atau kalimat.
5.      Membentuk gaya pengungkapan  yang jelas sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
6.      Mengungkapkan berbagai jenis ekspresi seperti: berita, perintah, penjelasan dan lain sebagainya
7.      Mengungkapkan berbagai sikap seperti: ajakan , penolakan dan sebagainya.

D.    Klasifikasi Kata
Istilah lain yang biasa dipakai untuk klasifikasi kata adalah penggolongan kata atau penjenisan kata. Dalam peristilahan bahasa Inggris disebut juga dengan part of speech.[4]

D.1. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
Dari segi bentuk kata, pengklasifikasiannya terbagi menjadi empat bagian, yaitu (1) kata dasar, (2) kata turunan, (3) kata ulang dan (4) kata majemuk. Berikut penjelasannya:
1.      Kata Dasar
Kata dasa adalah kata asli yang belum diberi imbuhan atau yang belum diberikan awalan, akhiran, sisipan dan penggabungan awalan dan akhiran. Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan.
2.      Kata Turunan
Kata turunan adalah kata yang telah mengalami penambahan atau pengimbuhan. Penambahan atau pengimbuhan disebut juga dengan afiks yang  terdiri dari beberapa bentuk, yaitu:
a)      Imbuhan di awal kata (Prefiks atau awalan)
b)      Imbuhan di tengah kata (Infiks atau sisipan)
c)      Imbuhan di akhir kata (Sufiks atau akhiran)
3.      Kata Ulang
Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk, baik seluruh kata maupun sebagian. Semua kata ulang wajib ditulis dengan memakai tanda penghubung (-). Contoh: lauk-pauk, anak-anak, gerak-gerik.

Kata ulang terdiri dari beberapa macam, yaitu:
a)      Ulangan seluruh kata dasar.
Contoh: anak-anak, buku-buku, ibu-ibu
b)      Ulangan kata dengan memberi imbuhan.
Contoh: berjalan-jalan, dibesar-besarkan, bermanja-manja
c)      Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang kedua.
Contoh: gerak-gerik, huru-hara, compang-camping
d)     Ulangan seluruh kata yang dinamakan kata asal.
Contoh: kunang-kunang, mata-mata, anai-anai
4.      Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda yang membentuk suatu arti baru. Contoh: duta besar, rumah makan, rumah sakit.

D.2. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata (Jenis Kata)
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh bagian yaitu:
1.      Kata Benda (Nomina)
Kata benda adalah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek.
Suatu kata dapat dikategorikan dalam kelas kata nomina apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat dikikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh :
Sepeda            : sepeda yang bagus/sepeda yang sangat bagus.
Pemandangan  : pemandangan yang indah/ yang sangat indah.
Pemuda           : pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah.
b)      Berimbuhan pe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an. Contoh: Permainan, pertunjukan, kesehatan.
c)      Dapat diingkari dengan kata bukan. Contoh: Saya (bukan saya), roti (bukan roti), gubuk (bukan gubuk).
2.      Kata Kerja (Verba)
Kata kerja adalah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata kerja biasanya berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat dikategorikan sebagai kelas kata kerja verba apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat diikuti oleh gabungan kata(frasa) dengan+kata sifat. Contoh:
Pergi    : pergi dengan gembira.
Tidur   : tidur dengan nyenyak.
Jalan    : jalan dengan santai.
b)      Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang dan telah. Contoh:
Akan mandi, sedang tidur, telah pergi dan sebagainya.
c)      Dapat diingkari dengan kata tidak. Contoh:
Tidak makan, tidak pergi dan sebagainya.
d)     Berawalan me- dan ber-. Contoh :
Melihat, melatih, bepikir, berusaha dan sebagainya.
3.      Kata sifat (Adjektiva)
Kata sifat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan sesuatu. Contoh: keadaan orang, binatang dan benda. Kata difat juga berfungsi sebagai predikat.
Suatu kata dapat dikategorikan sebagai kelas kata adjektiva apabila memenuhi persyaratan berikut:
a)      Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata sekali. Contoh:
Indah   : sangat indah/indah sekali.
Baik     : sangat baik/baik sekali.
Tinggi  : sangat tinggi/tinggi sekali.
b)      Dapat diberi awalan se- dan ter-. Contoh:
Luas    : seluas/terluas.
Mudah : semudah/termudah.
Buruk  : seburuk/terburuk.
c)      Dapat diingkari dengan kata tidak. Contoh:
Murah  : tidak murah.
Sulit     : tidak sulit.
Pahit    : tidak pahit.
4.      Kata keterangan (Adverbia)
Kata keterangan adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif atau kalimat.
Berikut adalah macam-macam adverbia:
a)      Adverbia dasar bebas, contoh: alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
b)      Adverbia turunan. Adverbia ini terbagi menjadi tiga bagian berikut:
I.       Adverbia reduplikasi, contoh: agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih, paling-paling.
II.    Adverbia gabungan, contoh: belum boleh, belum pernah atau tidak mungkin.
III. Adverbia yang berasal dari berbagai kelas, contoh: terlampau, agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnhya.
5.      Kata ganti (Pronomina)
Kata ganti adalah kata yang digunakan untuk mengacu pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk mangganti kata benda atau nomina. Adapun jenis-jenis kata ganti adalah sebagai berikut:
a)      Kata ganti orang. Terbagi menjadi tiga bagian, dapat berbentuk tunggal maupun jamak, yaitu:
I.       Kata ganti orang pertama: saya, aku, kami, kita.
II.    Kata ganti orang kedua: engkau, kamu, kalian.
III. Kata ganti orang ketiga: dia, beliau, mereka.
b)      Kata ganti pemilik       : -ku, mu, -nya.
c)      Kata ganti penunjuk    : ini, itu.
Contoh: Kami sangat berharap kepada kalian.
6.      Kata bilangan (Numeralia)
Kata bilangan adalah kata yang digunakan untuk menghitung banyaknya orang, binatang atau benda. Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapt peringkat pertama dikelasnya.
Bapak bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
7.      Kata tugas
Kata tugas adalah sejenis kategori kata dalam tatabahasa formal bahasa Indoneisa yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok yaitu: kata depan, kata sambung, kata sandang, kata seru dan partikel.
a)      Kata depan (Preposisi)
Kada depan adalah kata yang merangkaikan kata-kata atau bagian kalimat. Preposisi dapat berbentuk kata, contohnya kata di dan untuk, atau gabungan kata, cohtohnya bersama atau sampai dengan.
Preposisi terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya:
I.       Preposisi yang menandai tempat                     : di, ke, dari.
II.    Preposisi yang menandai maksud dan tujuan : untuk, guna.
III. Preposisi yang menandai waktu              : hingga, hampir.
IV. Preposisi yang menandai sebab                       : demi, atas.
b)      Kata sambung (Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa; kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa dan seterusnya.
Kata sambung terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
I.       Konjungsi berkoordinasi: kata penghubung yang menghubungkan dua kata, klausa, frasa atau kalimat yang memiliki bentuk sintaksis yang sama atau sederajat. Contoh: dan, dengan, serta, atau dan lain-lain.
II.    Konjungsi subordinat: sebagai kata penghubung yang menghubungkan dua kata dan seterusnya yang tidak sederajat. Contoh: sebab, jika, bila dan lain-lain.
c)      Kata sandang (Artikula)
Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Contoh:
Sang guru              : sang bermakna tunggal.
Para pemimpin     : para bermakna jamak.
Si cantik                : si bermakna netral
d)     Kata seru (interjeksi)
Kata seru adalah kata yang mengungkapkan perasaan dan maksud seseorang, misalnya ah atau aduh,  atau melambangkan tiruan bunyi, seperti meong. Contoh lainnya adalah:
Ayo, jangan putus asa.
Wah, mahal sekali.
e)      Partikel
Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai, mempertahankan atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi. Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah dan pernyataan (berita). Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek dan –pun.



Daftar Pustaka

Al-Khuli, Muhammad ‘Ali. 1982. A Dictionary of Theoritical Linguistics. Lebanon : Lebraire Du Liban.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
___________. 2011. Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta.
Irman, Mochammad, dkk. 2008. Bahasa Indonesia 2. PDF. sJakarta: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS. Diakses dari: http://www.scribd.com/doc/82746328/12/B-Klasi%EF%AC%81kasi-Kata-Berdasarkan-Bentuk-Kata. 08-08-2012. Pukul: 12.30. WIB.

Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa.  Cet. Keduapuluh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
http://www.anneahira.com/kata.htm. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.15. WIB.
http://bacpjj.unismuh.ac.id/new/?p=56. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.17. WIB.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kata. Diakses pada: 07-08-2012. pukul: 14.00. WIB.


[1] Abdul Chaer, Ragam Bahasa Ilmiah. 2011. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 16.
[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 162.
[3] Abdul Chaer, Ragam Bahasa Ilmiah. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 16.
[4] Abdul Chaer, Linguistik Umum. 2007. Jakarta: Rineka Cipta. Hal.166.