Senin, 18 Maret 2013

Hakikat Bahasa


  1. Pendahuluan
Bahasa dapat mengacu kepada kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks. Kajian ilmiah terhadap bahasa dalam bahasa indra disebut dengan linguistik.
  1. Pengertian Bahasa
Secara etimologi, istilah bahasa berasal dari bahasa Latin lingua. Dalam bahasa Itali “bahasa” disebut linguaggio dan lingua, bahasa Perancis menyebut “bahasa” sebagai langage dan langue, dalam bahasa Spanyol “bahasa” disebut dengan lengua dan disebut dengan language dalam bahasa Inggris.
Penyebutan “bahasa” terdiri dari dua konsep utama dalam kajian lingustik yaitu penyebutan bahasa secara umum (bersifat koloquel) seperti langage (bahasa Prancis), linguaggio (bahasa Itali) dan juga penyebutan bahasa pada bahasa tertentu atau suatu sistem linguistik tertentu seperti langue (dalam bahasa Prancis), lingua (bahasa Itali) dan lengua (bahasa Spanyol). Akan tetapi, language dalam bahasa Inggris dapat digunakan untuk menamakan bahasa secara umum atau digunakan untuk menyebut satu bahasa tertentu, demikian halnya dengan istilah “bahasa” dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan pengertian terminologis dari bahasa itu sendiri telah banyak didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:
  1. Saphir (1921) dalam Chaedar Alwasilah (1990) bahwa bahasa adalah “a purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotion and desire by means of voluntarily produced symbol”. Saphir menyebutkan lima butir terpenting dalam definisi “bahasa” yaitu: manusiawi, dipelajari, memilki sistem, arbitrer dan bersimbol.
  2. Hall mengungkapkan bahwa bahasa merupakan suatu institusi dalam pengertian alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar umat manusia.
  3. Wardhough menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambangbunyi yang arbitrer yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.
  4. Hasan Lubis (1988) menyebutkan bahwa bahasa adalah sistem lambang-lambang yang arbitrer yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk menyampaikan fikiran dan perasaannya dengan bunyi-bunyi.
  5. Kridalaksana (2008) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipergunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
  6. Caroll (1959) beranggapan bahwa bahasa adalah sebuah sistem berstruktur mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia.i
  7. Bloch dan Trager (1942) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.ii
  1. Hakikat Bahasa
Pakar linguistik telah merumuskan banyak hal tentang hakikat bahasa. rumusan-rumusan tersebut jika dibutirkan akan menghasilkan sejumlah ciri atau sifat yang merupakan hakikat bahasa. Sifat-sifat tersebut pula yang telah didefinisikan oleh pakar-pakar linguistik diatas dalam menemukan pelbagai sifat-sifat bahasa.
Sifat-sifat tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Chaer (2007) antara lain: (1) Bahasa adalah sebuah sistem, (2) Bahasa itu berwujud lambang, (3) Bahasa itu berupa bunyi, (4) Bahasa itu bersifat arbitrer, (5) Bahasa itu bermakna, (6) Bahasa itu bersifat konvensional, (7) Bahasa itu bersifat unik, (8) Bahasa itu bervariasi, (9) Bahasa itu bersifat produktif, (10) Bahasa itu bervariasi, (11) Bahasa itu bersifat dinamis, (12) Bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, (13) Bahasa itu merupakan identitas penuturnya. Begitu pula yang dipaparkan oleh Chaeda Alwasilah (1993) yang secara sederhana lagi menyebutkan hakikat bahasa itu antara lain: (1) Bahasa itu sistematik, (2) Bahasa itu manasuka “arbitrer”, (3) Bahasa itu ucapan/vokal, (4) Bahasa itu simbol atau lambang, (5) Bahasa itu mengacu pada dirinya sendiri, (6) Bahasa itu manusiawi dan (7) Bahasa itu komunikasi. Kemudian masih banyak lagi paparan-paparan linguis tentang hakikat bahasa yang tentu tidak dapat disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.
Dari beberapa keterangan yang diambil dari berbagai sumber, maka penulis akan menjelaskan tentang hakikat bahasa tersebut secara sederhana dan hal-hal yang akan dijelaskan kemudian merupakan beberapa dari poin inti dari hakikat bahasa. Berikut paparan dari sifat-sifat tersebut secara rinci:
  1. Bahasa Sebagai Sistem
Sistem sangat identik dengan pengertian cara atau aturan. Sistem juga berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya yang berhubungan secara fungsional.
Begitupun dengan bahasa, sebagai sebuah sistem, bahasa memiliki komponen-komponen dan aturan-aturan. Dalam pengertian ini, bahasa memiliki dua aspek penting yaitu unsur-unsur dan hubungan-hubungan yang dirajut oleh unsur-unsur tersebut. Satuan-satuan bahasa tersebut selalu terkait satu dengan yang lain sehingga membentuk kepaduan yang erat dan saling mendukung.iii
Pyles dan algeo (1993) menyebutkan bahwa terdapat dua tingkatan dalam sistem bahasa yang mereka sebut sebagai duality of patterning yang jika diterjemahkan menjadi kaidah ganda sistem bahasa. Kedua tingkatan ini mencakup komponen makna dan bentuk. Komponen bentuk yang berupa bunyi dipelajari oleh cabang linguistik yaitu fonetik atau fonologi sedangkan komponen makna ditelaah oleh semantik dan tata bahasa.iv
Lebih jauh, Chaer (2007) menjelaskan, sebagai sebuah sistem, bahasa itu sekaligus bersifat sistemis. Dengan sistemis, artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola dan tidak tersusun secara acak atau secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-sub sitem atau sistem bawaan. Dapat disebutkan sistem bawaan tersebut antara lain: subsistem fonologi, morfologi, sintaksis dan subsistem semantik.v
Dalam linguistik, terutama subsistem fonologi, morfologi dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak dibawah subsistem yang lain, lalu subsistem yang lain tersebut terletak pula dibawah subsistem lainnya. Selanjutnya, ketiga subsistem tersebut- pun terkait dengan subsistem semantik.vi
Dengan kata lain, bahasa sebagai sistem merupakan kerjasama antara subsistem yang lain dengan subsistem lainnya yang terjalin dan membentuk bahasa.
  1. Bahasa Sebagai Lambang
Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol yang diartikan dengan pengertian yang sama. Lebih rinci, Chaedar Alwasilah (1993) menjelaskan bahwa lambang atau simbol mengacu pada suatu obyek dan hubungan antara simbol dan obyek itu bersifat manasuka. Lambang dapat dibuat dari bahasa apa saja, ia bisa terbuat hari suatu benda seperti piramid yang melambangkan keagungan, atau dari kain seperti warna putih atau hitam atau juga dalam bentuk ujaran.
Lambang dengan segala seluk beluknya dikaji dalam kegiatan ilmiah dalam satu bidang kajian yang disebut dengan ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang terdapat didalam kehidupan manusia termasuk bahasa.vii
Dalam kehidupannya, manusia selalu menggunakan lambang. Oleh karena itu, Earns Cassirer menyatakan bahwa manusia adalah makhluk bersimbol (animal symbolicum).viii Hampir tidak ada kegiatan yang tidak terlepas dari lambang, termasuk alat komunikasi verbal yang disebut dengan bahasa.ix
Jika ide atau konsep keadilan sosial dilambangkan dengan gambar padi dan kapas, maka wujud bahasa dilambangkan dalam bentuk bunyi yang berupa satuan-satuan bahasa seperti kata atau gabungan kata. Mengapa kata disebut sebagai lambang dalam satuan bahasa? sekali lagi, karena lambang bersifat manasuka, yaitu tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dan dengan yang dilambangkannya.
  1. Bahasa Itu Berupa Bunyi
Bahasa adalah bunyi, maka sepenuhnya dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Yaitu, sistem bahasa itu adalah berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi.x
Kemudian, yang perlu dipertegas disini adalah tentang bunyi itu sendiri menurut pandangan bahasa, apakah itu bunyi seperti yang dikenal secara umum? Apakah semua bunyi disebut bahasa? dan lain sebagainya. Bunyi yang dimaksud dalam bahasa disebut juga denga “speech sound” adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan didalam fonemik sebagai “fonem” yang keduanya dibahas dalam bidang lingusitik.
  1. Bahasa Itu Bersifat Arbitrer
Arbitrary berarti selected at random and without reason, dipilih secara acak dan tanpa alasan. Ringkasnya, manasuka atau seenaknya, asal bunyi, tidak ada hubungan logis antara kata-kata sebagi simbol atau lambang dengan yang dilambangkannya.xi Atau, dengan bahasa lain, Chaer (2007) menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.
Contoh pengertian arbitrer tersebut dapat kita lihat sehari-hari dalam kehidupan kita, hal tersebut terbukti antra rangkaian bunyi-bunyi dengan makna yang dikandungnya. Mengapa bahan bakar sepeda motor disebut dengan bensin tidak kecap, binatang tertentu di Indonesia disebut kuda, di Inggris horse, di Arab faras dan akan terus berbeda diwilayah-wilayah lain tentang penyebutannya.
Itulah yang disebut dengan arbitrer atau manasuka yang tidak akan bisa ditemukan alsan penyebutannya yang berbeda-beda dikarenakan sifat ke-arbitreran-nya. Andaikata bahasa itu tidak arbitrer, sudah barang tentu dapat kita pastikan bahwa sebutan untuk kuda hanya akan ada satu kata dalam bahasa manusia, tidak ada lagi penyebutan kuda, horse, faras dan lain sebagainya, hanya akan ada satu penyebutan.
  1. Bahasa Itu Bermakna
Bahasa, sebagai sistem lambang yang berwujud bunyi sudah pasti melambangkan suatu pengertian tertentu. Maka, yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi tersebut. Karena lambang –lambang itu mengacu pada suatu konsep, ide atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu memiliki makna.xii
Contohnya adalah lambang bahasa yang berwujud bunyi “kuda”; lambang ini mengacu pada konsep “sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai”, kemudian konsep tersebut dihubungkan dengan benda yang ada didalam dunia nyata. Jadi, secara sederhana dapat dikatakan bahwa “kuda” merupakan lambang bunyi, “sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai” merupakan konsep dan “kuda” yang ada didalam dunia nyata merupakan wujud dari lambang bunyi tersebut.
  1. Bahasa Itu Konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa harus mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.xiii
Contohnya adalah, adanya kesepakatan dalam masyarakat bahasa Indonesia untuk menyebut suatu benda beroda dua yang dapat dikendarai dengan dikayuh, yang secara arbitrer dilambangkan dengan bunyi “sepeda”, maka anggota masyarakat bahasa Indonesia “seluruhnya” harus mematuhinya. Jika tidak diapatuhi dan kemudian diganti dengan dengan lambang lain, maka komunikasi antar masyarakat akan terhambat.
Oleh karena itu, jika ke-arbitreran bahasa terletak pada antara lambang-lambang bunyi dengan konsep yang dilambangkannya, maka ke-konvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang-lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkan.xiv
  1. Bahasa Itu Dinamis
Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia, sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat.xv
Karena keterkaitan dan keterikatan manusia dengan bahasa, dan kehidupan manusiapun akan terus berubah dan tidak tetap, maka bahasa-pun menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.xvi
Perubahan bahasa dapat terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik maupun leksikon. Namun perubahan yang paling terlihat dan paling sering terjadi adalah pada tataran leksikon dan semantik. Hampir setiap saat terdapat kata-kata baru muncul sebagai akibat dari perubahan budaya dan ilmu, atau terdapat kata-kata lama muncul dengan makna baru.
Dengan terjadinya perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu secara otomatis akan bermunculan konsep-konsep baru yang tentunya disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata atau istilah-istilah baru. Kalau-pun kelahiran konsep tersebut belum disertai dengan wadahnya, maka manusia sendiri yang akan meciptakan istilahnya.xvii
  1. Bahasa itu bervariasi
Setiap bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam suatu masyarakat bahasa, dan adapun yang masuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Jadi, jika disebut masyarakat bahasa Indonesia adalah semua orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia. Yang termasuk anggota masyarakat sunda adalah orang-orang yang merasa memiliki dan menggunakan bahasa sunda dan seterusnya. Jadi, dapat ditarik sedikit konklusi bahwa banyak orang Indonesia yang menjadi lebih dari satu anggota masyarakat bahasa, karena disamping dia sebagai orang Indonesia, dia juga menjadi pemilik dan pengguna bahasa daerahnya.xviii
Anggota mayarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama, baik dari segi pendidikan, profesi, usia dan lain-lain. Oleh karena latar belakang dan lingkungan yang tidak sama, maka bahasa yang digunakan beragam atau bervariasi, dimana antara variasi atau ragam yang satu dengan yang lain seringkali memiliki perbedaan yang besar.
Mengenai variasi bahasa, terdapat tiga istilah yang dipandang perlu untuk diketahui, yaitu idiolek, dialek dan ragam.xix Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Artinya setiap orang memiliki ciri khas bahasa masing-masing, contohnya adalah bahasa-bahasa penulis seperti Hamka, Andrea Hirata dan lain-lain yang tentu berbeda satu sama lain.
Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu. Contohnya adalah dialek Banyumas, dialek Surabaya, bahasa Indonesia zaman Balai Pustaka dan sebagainya.
Adapun ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal, digunakan ragam bahasa yang disebu dengan ragam baku, untuk situasi yang tidak formal, digunakan ragam yang tidak baku. Begitu pula dapat dilihat dari sisi sarana, terdapat ragam tulisan dan lisan dan masih banyak lagi ragam-ragam lainnya.
  1. Bahasa Itu Manusiawi
Bahasa itu manusiawi dalam pengertian bahwa apa-apa yang sudah dipaparkan sebelumnya adalah suatu kekayaan yang hanya dimiliki umat manusia. Ringkasnya bahwa manusia-lah yang berbahasa sedangkan hewan-hewan lain tidak berbahasa.xx
Keistimewaan bahasa menusia akan semakin terasa jika dibandingkan dengan komunikasi binatang misalnya. Hal ini dapat ditelusuri dari sejarah evolusi manusia dan evolusi bahasanya, ahli-ahli biologi-pun membuktikan bahwa sistem komunikasi binatang itu sama sekali tidak mengenal ciri ganda bahasa manusia yaitu sistem bunyi dan makna (duality feature).xxi
Sering didengar dalam literatur-literatur yang mengatakan bahwa manusia itu homo loquens (the speaking animal), hewan yang memiliki kemampuan berbahasa. Jika manusia itu hewan yang berbahasa sedangkan bahasa adalah seperangkat kalimat-kalimat yang lazim, sedangkan kalimat lazim dibedakan dari yang tidak lazim dari tata bahasa, maka kesimpulan tentang manusia itu adalah homo grammaticus, yakni hewan yang bertata bahasa.xxii

Demikianlah paparan sederhana tentang “hakikat bahasa dari beberapa sumber dan referensi, semoga bermanfat. Salam.

Refensi
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik: Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta.
__________, Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Machayal, Rohali. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: Grasindo.
Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Poda.



i Rochayah Machali.2000. Pedoman Bagi Penerjemah . Jakarta: Grasindo. Hal. 18.


ii Ibid. Hal. 18.

iii Muhammad, 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 15.


iv Ibid. Hal. 15.

v Chaer.2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta. Hal. 35.

vi Ibid. Hal. 35.

vii Ibid. Hal. 37.

viii Ibid. Hal. 39.

ix Ibid. Hal. 39.

x Ibid. Hal. 42.

xi Chaedar Alwasilah.1993. Linguistik; Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa Hal. 85.

xii Chaer. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta. Hal. 44.

xiii Ibid. Hal. 47.

xiv Ibid. Hal. 48.

xv Ibid. Hal. 53.

xvi Ibid. Hal. 53.

xvii Ibid. Hal. 54.

xviii Ibid. Hal. 55.

xix Ibid. Hal. 55.

xx Chaedar Alwasilah. 1993. Linguistik; Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa. Hal. 88.

xxi Ibid. Hal. 88.

xxii Ibid. Hal. 89.


Sabtu, 16 Maret 2013

Bengkel dan Rutinitas


Hari ini hari sabtu. Memulai aktifitas yang sedikit longgar di akhir-akhir semester memang bikin stres. Tak ayal, banyak saraf-saraf yang aku rasakan semakin kendor dimakan oleh ruangan empat kali empat alias kos-ku sendiri.
Jadwal akhir pekan memang tidak padat-padat banget, melihat matahari yang semakin meninggi, aku paksa mengayuh sepeda motorku ke bengkel, ingin kuservis rencananya. Servis motor meupakan kegiatan rutin yang memang diharuskan, itu merupakan wujud perhatian dari pengguna kepada sang kuda besi agar ia selalu terawat dan tampil baik ketika dikendarai.
Pernah suatu ketika, temanku sudah tiga bulan tidak menyervis motornya, olinya habis karena tidak diganti, mesinnya-pun banyak yang rusak, dan akhirnya dibongkar dan diganti habis-habisan, dan itu memakan biaya yang tidak sedikit. Masalah mesin memang luar biasa beratnya, bukan hanya dari awal pembelian, tapi perawatan-nya  juga yang harus teratur.
Aku-pun pergi ke bengkel langganan. Jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kampus tempat aku duduk beberapa tahun ini. Sesampainya disana, cukup lengang, mungkin karena hari sabtu, hari yang tidak terlalu padat dan banyak orang tidak ingin kemana-mana pada hari ini.
Bengkel ini pada hari-hari biasa sangatlah ramai, maklum, karena lokasinya yang strategis, juga karena ongkosnya murah dan terjangkau bagi kalangan mahasiswa. Setalah memberhentikan motor, akupun beranjak ke bangku pojok, soalnya ketika aku tiba, para montir sudah memperbaiki beberapa motor pelanggan. Jadilah aku harus antri terlebih dahulu.
Antri merupakan kebiasaan baik, sangat baik untuk terapi kesabaran. Di Indonesia, budaya ini memang sudah seharusnya melekat pada setiap pribadi rakyatnya. Namun, aku-pun masih sering merasa, bahwa aku bukanlah sosok pengantri yang baik, itu keluhku, dan dari sini aku mencoba untuk bisa menjadi warga negara yang baik.
Obat yang baik untuk mengantri adalah bacaan, apapun itu, dari koran, majalah dan lain sebagainya. Oleh karean itu, sangatlah bijak jika suatu tempat yang berkaitan dengan pelayanan yang menyangkut masyarakat banyak, haruslah menyediakan bahan bacaan yang dapat membuat para pengguna layanan tidak jenuh dalam menunggu gilirannya tiba.
Salah satu efek positif dari hal tersebut adalah untuk membudayakan kegemaran membaca pada tiap orang, atau paling tidak dapat menambah pengetahuan tentang info-info atau isu-isu yang beredar pada saat ini, dan itu merupakan salah satu poin penting untuk memajukan masyarakat terhadap apa yang berkembang pada setiap kejadian atau peristiwa yang ada pada saat itu.
Beruntungnya aku, ketika itu telah tersedia sebuah koran yang tergeletak dan siap untuk dibaca, bagiku ini merupakan servis lebih dari bengkel terhadap pelanggannya. Ya, daripada mengotak-atik yang tidak perlu dan melihat-lihat dengan pandanag kosong, tentu akan lebih baik jika membaca menjadi sebuah prioritas.
Akhirnya setelah tiga puluh menit menunggu, giliranku tiba. Sang montir-pun menanyakan keperluanku:
“Mau diapain motornya mas?” tanyanya.
“Servis ringan sama ganti oli mas” jawabku.
“Olinya apa?”
“Olinya F...” aku menambahi.
“Ok” ia menyahut.
Mungkin Cuma itu kebutuhanku saat ini, dan itu harus dilakuakn rutin. Begitu pula dengan membaca, ya alangkah lebih baik lagi jika hal tersebut juga dilakukan secara rutin, tidak hanya ketika berada ditempat bengkel atau tempat lain yang sedang penuh dengan antrian “baru mebaca”.
Tak lama kemudian, motorku selesai diservis, dan transaksi bayar membayar merupakan suatu kewajiban atas jasa montir. Akhirnya, selamat bermalam minggu, dan kita sendirilah yang harus membuat hari-hari kita menjadi istimewa. Salam.

Bengkel Jogja, 16 Maret 2013.

Kamis, 14 Maret 2013

Rabu Malam di Angkringan



Malam ini, kulihat jam di Hp sudah menunjukkan pukul tujuh. “Sudah waktunya untuk makan malam”, aku berbicara pada diriku sendiri. Tapi sebelum itu, aku ada sedikit keperluan di toko buku, ingin melihat-lihat roman atau novel yang mungkin layak dibeli untuk bulan ini, karena sudah ku anggarkan sejak jauh-jauh hari.
Setelah beberapa saat, aku bersiap-siap berangkat. Toko-nya dekat, hanya beberapa ratus meter dari kosku, masuk kejalan besar, lurus dan toko tersebut akan terlihat di sisi selatan jalan. Cukup besar dan cukup luas.
Sesampainya disana, kucari-cari dibagian karya sastra maupun novel, tidak sulit untuk menemukan sesuatu yang menarik, banyak pilihan, dan akhirnya kuputuskan untuk terus mencari. Setelah tiga puluh menit lamanya, aku belum berminat untuk mengambil beberapa novel atau roman, sebagian kecil sudah kumiliki, sedikit.
Tak lama kemudian, alarm perutku rupanya sudah memanggil, “oh iya, aku lupa kalo aku juga ingin makan” batinku. Aku-pun beranjak dari rak-rak buku yang penuh di toko tersebut, keluar dan kudapati tempat makan sederhana, tepat didepan toko tersebut, “aaahh, angkringan” senyumku.
Beberapa saat, aku sudah mengambil nasi yang dibungkus dengan daun, orang-orang biasa menyebutnya dengan “nasi kucing”, entah mengapa mereka menyebutnya begitu, aku tak tahu sejarah asal-muasalnya.
Seperti kuceritakan diawal, nasinya terbungkus dalam daun pisang, rata-rata bentuknya kecil, “sekali makan mungkin taka akan kenyang”, itu yang kupikirkan. Menunya cukup sederhana, sambal ikan teri didalamnya, di angkringan tersebut-pun menyediakan minuman dan gorengan sebagai pelengkap lauk pauk.
Aah, sedapnya”
Tak terasa aku sudah mengambil bungkusan nasi yang kedua, dan kuambil pula tahu goreng untuk menambah nikmat makan malam ini. Ya, nikmat sekali.
Berada di warung kecil yang diangkut dengan gerobak, duduk berjejer diatas bangku dan dibawah temaram lampu yang membuat suasana semakin hangat, apalagi ditambah wedang jahe, hmmm, luar biasa.
Setelah beberapa suap dari bungkusan kedua, aku mendengar percakapan antara pembeli dan penjual dalam bahasa jawa kromo atau disebut juga dengan jawa halus. Kuterjemahkan begini, kurang lebih.
Berapa bu” ujar pembeli kepada sang penjual, yang kebetulan seorang wanita.
Apa aja pak?” ucapnya.
Nasi dua, es teh, sama gorengannya dua ”
O,, semuanya empat ribu limaratus pak”
Setelah itu, aku terperanjat, bukan karena murahnya, tapi karena pembelinya.
Ya, karena pembelinya adalah “mohon maaf” seorang tuna netra. Aku menyebut asma Allah dalam hati, luar biasa orang ini. Kulihat dia merogoh kantongnya, mencari-cari dan membayarnya.
Peristiwa itu terus kuperhatikan dan tak kulewatkan, “sungguh hebat orang ini” gumamku dalam hati.
Ia mampu melakukan apa yang dilakukan oleh orang normal, dan dia tidak meminta belas kasihan dari seorangpun dan semua ia lakukan sendiri. Aku termenung sejenak, melihat ia membayar dengan uang pas, dan berlalu dengan tongkatnya, sendirian dan berjalan kaki.
Pria tersebut merupakan potret malam, yang semakin jauh dia beranjak, semakin aku sadari, bahwa semua tidak mengahambatnya untuk berbuat apapun yang ia mau, semua ia lakukan meskipun pelan-pelan. Ia memiliki semangat yang kadang-kadang tak dimiliki manusia normal. Ia “menamparku” seketika, tamparan keras untuk bergerak dan bersemangat dalam hidup, tidak peduli apapun keadaanmu.
Karena, sudah banyak yang kulihat dan kurasakan sendiri terhadap apa yang dapat dilakukan oleh manusia normal kebanyakan, tapi tak pernah ada kemauan untuk itu. Sedangkan pria tersebut, sungguh mantap jalannya, memberikan gambaran bahwa ia juga bisa berbuat sesuatu tanpa harus melihat kekurangannya.
Dunia ini terkadang memang terbalik, sebagian orang yang dikarunia kelebihan, kadang tak tahu apa yang harus dilakukan dan hanya berdiam diri mengharapkan hujan uang turun dari langit, tak ada karya dan tak ada usaha.
Sebagian yang lain, yang justru terkadang terlihat hanya sebelah mata, mampu berbuat lebih yang tak bisa dilakukan kebanyakan orang. Fantastis.
Aah, pria itu telah berlalu, hilang dibawah lampu-lampu jalan yang terang, mungkin beranjak pulang, dan aku? masih termenung sejanak, berfikir tentang inspirasi hidup disaat yang tidak aku duga sebelumnya.
Terimaksih kuucapkan untukmu pak, juga untuk-Mu Tuhanku sang permberi kehidupan.
Akhirnya akupun melanjutkan untuk menghabiskan makanku yang tinggal separuh lagi, tak lama setelah membayar, aku beranjak pulang.

Angkringan Jogja, 13 Maret 2013







Rabu, 06 Maret 2013

FUNGSI BAHASA


A.    Pendahuluan
Awal-awal masa kuliah, terutama bidang linguistik yang saya ambil, saya disuguhkan dengan pertanyaan menarik tentang bahasa. Dalam kelas, para mahasiswa diberikan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang apa itu bahasa? Hakikatnya? Fungsinya? dan lain sebagainya sebagai pengantar.
Memang tidak aneh ketika banyak mahasiswa yang menjawab dan mendefinisikan bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi, titik. Mungkin pada awal-awal pembelajaran, hal itu masih dapat dimaklumi oleh para dosen, namun semakin menanjak semester saya, kami, mahasiswa dikritisi habis-habisan tentang hal yang sangat sederhan yaitu bahasa dan fungsi bahasa. Mengapa? Karena belum ada kemajuan berarti dalam fikiran mahasiswa tentang hal yang seharusnya telah mereka kembangkan lebih jauh lagi.
Kemudian saya mencoba untuk melihat-lihat ulang tentang hal tersebut, setelah membaca beberapa referensi, barulah saya pahami apa maksud dari dosen linguistik saya tersebut.
Pertama, saya akan menggambarkan tentang bahasa itu sendiri secara sederhana, karena pembahasannya akan ada dalam tulisan lain. Bahasa dapat didefinisikan sebagai suatu sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi, yang bersifat arbitrer, konvensional dan komunikatif.[i]
Kemudian, fokus utama dalam tulisan ini adalah tentang fungsi bahasa itu sendiri yang akan dijelaskan “mungkin secara sederhana pula” pada bagian selanjutnya.
B.     Fungsi Bahasa
Sebenarnya ada banyak pendapat linguis tentang fungsi bahasa dalam tradisi linguistik. Karena banyak arti dalam bahasa itu sendiri pada penggunaannya dalam manusia sehari-hari. Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep maupun perasaan.
Pada abad pertangahan (500-1500 M) studi bahasa kebanyakn dilakukan oleh para ahli logika ataupun ahli filsafat. Mereka menitik-beratkan penyelidikan bahasa-bahasa pada satuan-satuan kalimat yang dapat dianalisis sebagai alat untuk menyatakan preposisi benar atau salah.[ii]
Namun terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyakan kembali tentang pendekatan tersebut, apakah bentuk ekspresi, kesenangan, pertanyaan juga merupakan dikotomi salah benar?
Dalam logika, kalimat yang memiliki nilai benar atau salah hanyalah kalimat deklaratif saja, atau menggunakan bahasa hanya untuk membuat pernyataan salah atau benar saja sesuai dengan pikiran kita. Dalam berintraksi dan berkomunikasi, pikiran hanyalah satu bagian dari sekian banyak informasi yang akan disampaikan.[iii]
Berbicara lebih lanjut tentang fungsi bahasa, H. A. K. Halliday dalam bukunya Exploration Of The Function Of Language menyebutkan terdapat tujuh fungsi bahasa sebagai berikut:[iv]
1.      Bahasa memerankan fungsi instrumental, yang berarti bahwa bahasa itu merupakan penyebab terjadinya suatu  peristiwa. Fungsi ini dapat terlihat jelas pada pemakaian bahasa ketika seseorang memerintah, baik secara langsung maupun tidak.
2.      Bahasa memerankan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan berbagai peristiwa. Fungsi ini disebut dengan the regulatory function yang merupakan fungsi untuk mengatur dan mengendalikan orang lain atau untuk menyetir orang lain. Bahasa hukum yang memuat pasal-pasal beserta kandungannya merupakan contoh fungsi bahasa yang berkaitan dengan the regulatory system.
3.      Bahasa juga berfungsi untuk membuat pernyataan, menyampaikan fakta-fakta, pengetahuan, menjelaskan atau menggambarkan realitas yang sebenarnya. Tugas ini disebut the representational function.
4.      Bahasa berfungsi sebagai the interactional function. Artinya, bahwa bahasa bermanfaat untuk melanggengkan komunikasi atau hubungan antar sesama. Agar komunikasi berjalan dengan lancar, maka diperlukan pengetahuan mengenai logat, bahasa, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat istiadat dan lain-lain.
5.      Bahasa melakukan fungsi the personal function. Artinya, bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan dirinya, mengungkapkan sesuatu tentang dirinya dan sekaligus tentang hal lain. Juga dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan emosinya dan reaksi-reaksi lainnya.
6.      Bahasa merupakan alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Artinya bahwa bahasa memerankan fungsi the heuristic function. Fungsi ini sering terwujud dalam bentuk pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban seperti: mengapa, bagaimana, dimana dan lain-lain.
7.      Dan yang terakhir, bahasa berfungsi sebagai alat untuk berimajinasi yang juga disebut dengan the imaginative function. Artinya bahwa bahasa mampu menciptakan ide-ide yang non-faktawi seperti ketika mengisahkan cerita-cerita, karya sastra dan lain sebagainya.

Selain Halliday, terdapat pula linguis lain yang berpendapat tentang fungsi bahasa yaitu Jacobson (1960) yang merupakan pionir aliran linguistik praha. Menurutnya, terdapat enam fungsi bahasa yaitu: (1) fungsi eksresif atau emotif, (2) fungsi referensial, (3) fungsi estetik atau puistik, (4) fungsi fatik, (5) fungsi metalingual dan (6) fungsi direktif atau konatif. [v]
Kemudian searah dengan Jacobson, Karl Buhler menjelaskan pula beberapa fungsi bahasa menurut pendapatnya terbagi menjadi enam bagian sebagai berikut:[vi]
1.      Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berekspresi
Yaitu manusia dapat mengungkapkan dirinya lepas dari tujuannya. Fungsi ini dapat dilihat pada bahasa-bahasa yang dipakai pengarang dalam sastra, baik novel, cerpen, drama dan lain-lain.
Yang terpenting pada fungsi ini adalah ide dan gagasan dari pengarang atau penulis. Selain itu fungsi ekspresif bahasa dapat dilihat pada pernyataan otoritatif seperti pidato-pidato politik, dokumen-dokumen tokoh, karya ilmiah dan lain-lain.
2.      Bahasa berfungsi untuk memberikan informasi
Fungsi ini disebut juga dengan the informative function yang sering kita temukan dalam buku-buku pelajaran, surat kabar, majalah dan lain sebaginya. Fungsi ini bercirikan bahasa yang bersifat non-regional, non-idiolek, formal, teknis dan netral.  
3.      Bahasa menjalankan fungsi vokatif
Fungsi ini disebut juga dengan fungsi konatif, fungsi instrumental, fungsi operatif dan fungsi paragmatik. Fungsi vokatif dapat terlihat pada pengumuman-pengumuman, petunjuk, publiksi, propaganda, tulisan-tulisan persuasif dan lain sebagainya.
Yang terbersit dalam fungsi vokatif adalah bahasa merupakan hubungan antara penulis dan pembacanya  yang terwujud dalam hubungan gramatika yang telah ditentukan secara sosial ataupun personal. Adapun cirinya adalah bahasanya bersifat langsung dan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca atau pendengarnya.
4.      Bahasa menjalankan fungsi estetika
Fungsi ini berkaitan erat dengan rasa keindahan “sense of beauty” yang mungkin terpancar lewat untaian bunyi pada puisi, lagu dan sebagainya. Fungsi ini terwujud, selain dari yang disebutkan sebelumnya, juga melalui ritme, keselarasan, kontras kalimat, klausa dan kata atau diksi.
Dalam hal bunyi, misalnya aliterasi, anomatope, asonansi, rima, intonasi dan tekanan nada, berperan sekali dalam melahirkan fungsi estetik.
5.      Bahasa memiliki fungsi fatik
Fungsi fatik lebih diarahkan untuk memelihara hubungan yang akrab dengan lawan bicara. Fungsi fatik biasanya hadir dalam frasa-frasa baku dalam bahasa lisan seperti: apa kabar, selamat pagi, selamat berjuang dan sebagainya. Adapun dalam bahasa tulis, sering kita temukan fungsi fatik dalam ungkapan seperti: sudah barang tentu, tidak diragukan lagi dan lain sebagainya.
6.      Bahasa menjalankan fungsi metalingual
Fungsi ini lebih mengacu pada kemampuan bahasa dalam menjelaskan atau menamakan dan juga mengomentari sifat-sifatnya sendiri. Dengan kata lain bahwa bahasa bebicara tentang dirinya sendiri. Fungsi ini sering diwakili dengan istilah gramatika seperti: menangis itu verba, kapur itu nomina, bagus itu adjektiva dan lain-lain. Selain itu terdapat ungkapan-ungkapan seperti: dalam pengertian luas, terkadang hal itu dinamakan, sejujurnya, secara literal dan sebagainya.

Demikianlah rincian sederhana tentang fungsi bahasa dari beberapa sumber dan referensi, semoga bermanfat dan hal tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. 


[i] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.
[ii] Abdul Chaer & Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik; Perkenalan Awal. Cet kedua. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 15.
[iii] Ibid. Hal. 15.
[iv] Muhammad. 2004. Belajar Mikro Linguistik. Yogyakarta: Liebe Book Press. Hal. 31.

[v] Ibid. Hal. 31.
[vi] Ibid. Hal. 33.

Senin, 04 Maret 2013

Apa Kabar?


“Apa kabar?”

Pagi ini entah berapa kali aku mengingat namamu, menunggu balasan pesan yang belum juga tiba. Entah tak tahu mengapa, mungkin aku merindu..

“Sehat?”
Tentu itu yang akan selau ku tanyakan pula, mendambakan kau selalu berteman dengan rutinitas yang menyenangkan, atau membosankan sekalipun, dengan keadaan yang tak akan mengganggumu..
“Sibuk apa sekarang?”
Selalu ingin memberi semangat, tak ingin aku melihat kau mati membusuk dalam kebosanan. Cukup banyak udara diluar kamar, dan mungkin udara itu yang kau cari,  aah.. bukan kau saja, aku dan kita semua-pun begitu.
Malam tadi mimpiku kosong, dibangunkan oleh kicau burung didepan rumahku sejak dini hari. Aku tak tahu apa yang ada didalam fikiran manusia, termasuk kau. Aku tak ingin selalu merusak suasana, tapi mungkin aku hanya ingin sedikit “membantu”.
Ya, ya, membantu melawan hari yang kadang kita rasa nakal dari biasanya, membantu fikiran yang kadang buntu membentur tembok yang sangat dekat dengan kepala kita, membantu hati yang kadang tak sealu bisa bercengkrama dengan dedaunan yang berada jauh disana. Ya, hanya membantu, tak lebih dan tak kurang.
Pagi ini dingin,  tak lama kemudian ada sedikit mendung dan gerimis.
Kau tahu, meskipun berbasah-basahan, aku akan tetap menemani, “gratis !!!” dan jangan ragukan itu.
Jogja, Maret 2013



Sabtu, 02 Maret 2013

Cuacaku


Apa kabar duniaku?  kembali aku menghirup udaramu dengan rasa yang sangat-sangat baru. Akhir-akhir ini cuacamu sangat tak menentu, menemani akhir pekan yang aku rasa semakin ambigu untuk dinimati.
Tapi tak apalah, mau gimana lagi, tak mungkin kusalahkan kau tentang buruk dan baiknya cuacamu, karena aku merasa yakin bahwa kau tak beraslah dan tak punya andil dalam perubahan itu.
Kau tahu kampungku? kampungku berada dipelosok daerah sana. Dulu, ketika aku masih berumur enam hingga sepuluhan tahun, banyak orang-orang tak mengenal kampungkuu, bahkan ada nada menghina tersirat dalam ucapan orang-orang itu. Namun aku masih bangga terhadap kampungku itu.
Tahu kau? Karena aku merasa kampungku memiliki segalanya, ya, alam yang melimpah, tetangga yang menebar senyum, ramah tamah dalam silaturahmi, masih banyak hutan yang dapat dilihat, dah juga kepelosokannya kukira. Kampungku serasa negeri yang luar biasa, memberikan ikan-ikan segar dari sungainya yang jernih, tempat para penduduk mandi serta mengais rezeki.
Aku masih ingat ketika bapakku mengajakku mencari ikan ditepi sungai dikampungku, men-jala ikan sambil belajar aku men-jala –namun masih saja tak bisa- dan luar biasa yang kami dapatkan, ikan-ikan sungai segar untuk kami makan dan masuk dalam tungku ibuku.
Alam dan sungai dikampungku merupakan sahabatku, berendam lama di sungai merupakan hobi kami saat anak-anak, tak jarang aku-pun demam tinggi dibuatnya karena tak dengar nasihat ibu dan nenek. Tapi, tetap saja aku membandel dan tetap terjun kesungai. Betapa nakalnya aku saat itu.
Tapi entah mengapa, aku merasa luar biasa bahagia. Aku pernah diajak buyutku berjalan kaki ke kebun yang letaknya jauh sekali dari rumah, digerogoti nyamuk, masuk jalanan berlumpur hingga kotor pakaianku.
Namun sejak aku lulus dari sekolah dasar, orang tuaku ingin aku maju. Mendambakan pendidikan yang baik sebagaimana diharapkan oleh orang-orang tuan lainnya. Berangkatlah aku, dan akhirnya dengan perjalanan dan perjuangan yang berat aku sampai disini, Jogja.
Kau tahu duniaku? sesekali aku pulang melihat kampungku, menjenguk orang tuaku, membebaskan rasa rindu yang luar biasa lama dipendam. Tapi bagaimanapun aku harus kuat, karena aku adalah seorang laki-laki. Laki-laki haruslah bersifat kesatria, yang tegar dan kuat serta bertanggung jawab. Begitu pepatah-pepatah yang aku dengar dari para guru.
Akhir-akhir ini aku mengerti mengapa banyak perubahan pada duniaku yang sering tak tentu ini, alam-mu yang dulu kulihat indah, lebat dan rupawan, kini tergantikan dengan degradasi besar-besaran. Hutanmu gundul rupanya, hanya menyisakan kantong-kantong uang bagi pembesar yang tak tahu aku dari mana datangnya.
Aku mersa terjarah dalam kampungku sendiri, awal-awalnya aku masih merasa bodoh melihat betapa tak sesuainya keseimbangan ini, tapi sejak berada ditempat yang jauh, sedikit-sedikit aku mengerti, betapa tak aman lagi alam kampungku saat ini.
Pernah aku diajak ayah berjalan ke arah hulu, melihat-lihat apa perkembangan akhir-akhir ini pada negeriku. Luar biasa, hutanmu sungguh tinggal sedikit lagi, rawa-rawa menyempit dan hampir tak menyisakan air. Yang aku rasakan sesudahnya adalah panas dan gersang dibawah terik yang luar biasa, serasa matahari mendekat diatas ubun-ubunku.
Sadarlah aku, keseimbanganmu talah goyah oleh generasi-generasi kami yang tidak berfikir ulang tentang bagaimana kontribusimu selama ini. Kau memberikan segalanya dari alam Tuhan ini “gratis” tak mengharap balasan, sedangkan generasi kami membabatnya dengan berbagai macam alasan.
Tahulah aku, sungaiku yang jernih dulu, kini airnya semakin memudar, beralih keruh. Tak terlihat lagi batu-batu kali tempat kami semasa anak-anak melempar-lemparkannya ke dasar sungai. Hanya tinggal tebing-tebing yang bisa melongsorkan tanahnya kapan saja ia mau, dan akhirnya aku pulang dan tak jadi berendam.
Oh, itulah rupanya curhatanmu “duniaku” selama ini dengan cuacamu, negeriku yang kaya ini menggerogoti dirinya dengan mambumi-hanguskan alamnya sendiri. Entah hingga kapan generasi kami akan duduk manis mendengarkan ucapanmu dan mengamini permintaanmu. Membelai kembali alammu dengan perilaku sahaja, besahabat sebagaimana nenek moyang kami jauh sebelumnya.
Hari ini, cuaca masih panas, dan aku sebisa mungkin memahami dan mendengar dengan baik pembicaraanmu pada alam ini. Apapun itu, aku masih tetap menikmati dan tersenyum terhadapmu. Salamku.

              Jogja, 2 Maret 2013.